Selasa, Oktober 20, 2009

Boediono

Prof. Dr. Boediono, M.Ec. (lahir di Blitar, Jawa Timur, 25 Februari 1943; umur 66 tahun) adalah Wakil Presiden Indonesia yang menjabat sejak 20 Oktober 2009. Ia terpilih dalam Pilpres 2009 bersama pasangannya, presiden yang sedang menjabat, Susilo Bambang Yudhoyono. Sebelumnya ia pernah menjabat sebagai Gubernur Bank Indonesia, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Menteri Keuangan, Menteri Negara Perencanaan dan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas, dan Direktur Bank Indonesia (sekarang setara Deputi Gubernur). Saat ini ia juga mengajar di Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada sebagai Guru Besar. Oleh relasi dan orang-orang yang seringkali berinteraksi dengannya ia dijuluki The man to get the job done.

Gelar Bachelor of Economics (Hons.) diraihnya dari Universitas Western Australia pada tahun 1967. Lima tahun kemudian, gelar Master of Economics diperoleh dari Universitas Monash. Pada tahun 1979, ia mendapatkan gelar S3 (Ph.D.) dalam bidang ekonomi dari Wharton School, Universitas Pennsylvania.

Ia mendapat penghargaan Bintang Mahaputra Adipradana tahun 1999 dan "Distinguished International Alumnus Award" dari University of Western Australia pada tahun 2007

Karir

Boediono pertama kali diangkat menjadi menteri pada tahun 1998 dalam Kabinet Reformasi Pembangunan sebagai Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional. Setahun kemudian, ketika terjadi peralihan kabinet dan kepemimpinan dari Presiden BJ Habibie ke Abdurrahman Wahid, ia digantikan oleh Kwik Kian Gie.

Ia kembali diangkat sebagai Menteri Keuangan pada tahun 2001 dalam Kabinet Gotong Royong menggantikan Rizal Ramli. Sebagai Menteri Keuangan dalam Kabinet Gotong Royong, ia membawa Indonesia lepas dari bantuan Dana Moneter Internasional dan mengakhiri kerja sama dengan lembaga tersebut. Oleh BusinessWeek, ia dipandang sebagai salah seorang menteri yang paling berprestasi dalam kabinet tersebut. Di kabinet tersebut, ia bersama Menteri Koordinator Perekonomian Dorodjatun Kuntjoro-Jakti dijuluki 'The Dream Team' karena mereka dinilai berhasil menguatkan stabilitas makroekonomi Indonesia yang belum sepenuhnya pulih dari Krisis Moneter 1998. Ia juga berhasil menstabilkan kurs rupiah di angka kisaran Rp 9.000 per dolar AS.

Ketika Susilo Bambang Yudhoyono terpilih sebagai presiden, banyak orang yang mengira bahwa Boediono akan dipertahankan dalam jabatannya, namun posisinya ternyata ditempati Jusuf Anwar. Menurut laporan, Boediono sebenarnya telah diminta oleh Presiden Yudhoyono untuk bertahan, namun ia memilih untuk beristirahat dan kembali mengajar. Saat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono melakukan perombakan (reshuffle) kabinet pada 5 Desember 2005, Boediono diangkat menggantikan Aburizal Bakrie menjadi Menteri Koordinator bidang Perekonomian. Indikasi Boediono akan menggantikan Aburizal Bakrie direspon sangat positif oleh pasar sejak hari sebelumnya dengan menguatnya IHSG serta mata uang rupiah. Kurs rupiah menguat hingga dibawah Rp 10.000 per dolar AS. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di BEJ juga ditutup menguat hingga 23,046 poin (naik sekitar 2 persen) dan berada di posisi 1.119,417, berhasil menembus level 1.100. Ini karena Boediono dinilai mampu mengelola makro-ekonomi yang kala itu belum didukung pemulihan sektor riil dan moneter.

Pada tanggal 9 April 2008, DPR mengesahkan Boediono sebagai Gubernur Bank Indonesia, menggantikan Burhanuddin Abdullah. Ia merupakan calon tunggal yang diusulkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan pengangkatannya didukung oleh Burhanuddin Abdullah, Menkeu Sri Mulyani, Kamar Dagang Industri atau Kadin, serta seluruh anggota DPR kecuali fraksi PDIP.

Ketika namanya diumumkan sebagai calon wakil presiden mendampingi calon presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pada bulan Mei 2009, banyak pihak yang tidak bisa menerima dengan berbagai alasan, seperti tidak adanya pengalaman politik, pendekatan ekonominya yang liberal, serta bahwa ia juga orang Jawa (SBY juga orang Jawa). Namun demikian, ia dipilih oleh SBY karena ia sangat bebas kepentingan dan konsisten dalam melakukan reformasi di bidang keuangan. Pasangan ini didukung Partai Demokrat dan 23 partai lainnya, termasuk PKB, PPP, PKS, dan PAN. Pada Pemilihan Umum 8 Juli 2009, pasangan SBY-Boediono menang atas dua pesaingnya, Megawati—Prabowo dan Kalla—Wiranto.

Rabu, Oktober 14, 2009

Pelajar Indonesia di Jepang Tolak Kedatangan Miyabi ke Indonesia

Polemik kehadiran Miyabi ternyata tidak hanya memperoleh respon dari masyarakat Indonesia di dalam negeri, tetapi juga dari masyarakat Indonesia di luar negeri. Para pelajar Indonesia di Jepang adalah salah satu yang memberikan respon terhadap rencana kedatangan bintang film panas Jepang itu ke Indonesia.

Menteri Kebudayaan dan Pariwisata, Ad Interim, M Nuh, mengakui, pihaknya telah menerima surat keberatan atas rencana kedatangan Miyabi ke Indonesia dari para pelajar Indonesia yang berada di Jepang. ''Permasalahan ini (Miyabi) ternyata tidak hanya disampaikan oleh masyarakat Indonesia di dalam negeri, tapi juga dari luar negeri di antaranya perhimpunan pelajar Indonesia di Jepang,'' ujar M Nuh, Rabu (14/10).

Aktris bernama lengkap Maria Ozawa, di tanah kelahirannya berprofesi sebagai bintang film dan model untuk film porno. Maxima Pictures berniat memakai aktris tersebut untuk produksi film nasional berjudul 'Menculik Miyabi', namun rencana itu kemudian dibatalkan setelah mendapat respon keras dari sebagian besar masyarakat.

Kamis, Oktober 08, 2009

PERINGATAN DINI CUACA TANGGAL 09 - 12 Oktober 2009

Di belahan bumi utara masih terdapat aktifitas badai tropis 'PARMA' yang berada di sebelah Utara Filipina, badai tropis ini mempengaruhi kondisi atmosfer di wilayah Indonesia terutama di wilayah Utara khatulistiwa bagian Barat dan Tengah. Selain itu juga terdapat aktifitas pusaran angin tertutup di Samudera Hindia sebelah Barat Sumatera Selatan serta adanya pumpunan angin di sepanjang NAD, Sumatera bagian Utara hingga Laut Cina Selatan sebelah Barat Filipina yang mempengaruhi pertumbuhan awan hujan di sepanjang daerah tersebut. Demikian juga dengan kondisi Dipole Mode di Samudera Hindia sebelah barat Sumatera masih bernilai negatif dan MJO yang masih aktif di wilayah Indonesia bagian Tengah dan Timur. Perlu juga diperhatikan adanya aktifitas konvektif terkait dengan temperatur yang cukup tinggi pada siang hari yang merupakan aktifitas atmosfer berskala lokal disebagian wilayah Indonesia dimana hal tersebut akan berpotensi menimbulkan hujan lebat yang disertai angin kencang dan petir dalam waktu yang tidak terlalu lama.
Wilayah yang berpotensi hujan lebat disertai petir dan angin kencang adalah :

- NAD dan sebagian besar Sumatera
- Pesisir Barat Sumatera
- Pesisir Timur Sumatera bagian Utara dan Tengah
- Jawa bagian Barat dan Tengah
- Sebagian besar Kalimantan
- Sulawesi bagian Utara, Barat dan Tengah
- Maluku bagian Tengah dan Selatan
- Papua bagian Barat, Utara dan Tengah



linkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...