Minggu, Mei 11, 2008

Ekosistem

Sebuah ekosistem adalah level paling kompleks dari sebuah organisasi alam. Ekosistem terbentuk dari sebuah komunitas dan lingkungan abiotiknya seperti iklim, tanah, air, udara, nutrien dan energi. Ahli ekologi sistem adalah mereka yang mencoba menghubungkan bersama beberapa perbedaan aktifitas fisika dan biologi di dalam suatu lingkungan. Penelitian mereka seringkali terfokus pada aliran energi dan perputaran material-material yang ada di dalam sebuah ekosistem. Mereka biasanya menggunakan komputer yang canggih untuk membantu memahami data-data yang dikumpulkan dari penelitian di lapangan dan untuk memprediksi perkembangan yang akan terjadi.
Aliran Energi
Para ahli ekologi mengkategorikan elemen-elemen yang membentuk atau yang memberi efek pada sebuah ekosistem menjadi 6 bagian utama berdasarkan para aliran energi dan nutrien yang mengalir pada sistem:
1. Matahari
2. Bahan-bahan abiotik
3. Produsen
4. Konsumen Pertama
5. Konsumen Kedua
6. Pengurai
Sebuah ekosistem yang sederhana dapat digambarkan seperti berikut. Matahari menyediakan energi yang hampir dibutuhkan semua produsen untuk membuat makanan. Produsen terdiri dari tanaman-tanaman hijau seperti rumput dan pohon yang membuat makanan melalui proses fotosintesis. Tanaman juga membutuhkan bahan-bahan abiotik seperti air dan pospor untuk tumbuh. Yang termasuk konsumen pertama diantaranya tikus, kelinci, belalang dan binatang pemakan tumbuhan lainnya. Ular, macan dan konsumen kedua lainnya atau yang biasa disebut dengan predator adalah pemakan binatang. Pengurai seperti jamur dan bakteri, menghancurkan tanaman dan binatang yang telah mati menjadi nutrien-nutrien sederhana. Nutrien-nutrien tersebut kembali ke dalam tanah dan digunakan kembali oleh tanaman-tanaman.
Tingkatan-tingkatan energi yang berkesinambungan yang berlangsung dalam bentuk makanan ini disebut rantai makanan. Di dalam sebuah rantai makanan yang sederhana rumput adalah produsen, konsumen pertama seperti kelinci memakan rumput. Kelinci selanjutnya dimakan oleh konsumen kedua misalnya ular atau macan. Bakteri pengurai menghancurkan sisa-sisa rumput yang mati, kelinci, ular, dan macan yang tidak termakan, sama halnya seperti menghancurkan kotoran binatang.
Sebagian besar ekosistem memiliki suatu variasi produsen, konsumen dan pengurai yang membentuk sebuah rantai makanan yang saling tumpang tindih yang dinamakan jaringan makanan. Jaringan-jaringan makanan terutama sekali terdapat di ekosistem wilayah tropis dan ekosistem lautan.
Beberapa spesies makan banyak jenis makanan tetapi ada juga yang membutuhkan makanan yang khusus. Konsumen pertama seperti koala dan panda terutama makan satu jenis tanaman. Makanan utama koala adalah eucalyptus dan makanan utama panda adalah bambu. Jika tanaman-tanaman ini mati maka kedua binatang tersebut juga ikut mati.
Energi yang berpindah melalui sebuah ekosistem berada dalam sebuah urutan transformasi. Pertama produsen merubah sinar matahari menjadi energi kimia yang disimpan di dalam protoplasma (sel-sel tumbuhan) di dalam tanaman. Selanjutnya konsumen pertama memakan tanaman, merubah energi menjadi bentuk energi kimia yang berbeda yang disimpan di dalam sel-sel tubuh. Energi ini berubah kembali ketika konsumen kedua makan konsumen pertama.
Sebagian besar organisme memiliki efisiensi ekologi yang rendah. Ini berarti mereka hanya dapat merubah sedikit bagian dari energi yang tersedia bagi mereka untuk disimpan menjadi energi kimia. Contohnya tanaman-tanaman hijau hanya dapat merubah sekitar 0,1 hingga 1 % tenaga matahari yang mencapainya ke dalam protoplasma. Sebagian besar energi yang tertangkap di bakar untuk pertumbuhan tanaman dan lepas ke dalam lingkungan sebagai panas. Begitu juga herbivora atau binatang pemakan tumbuhan dan karnivora binatang pemakan daging merubah energi ke dalam sel-sel tubuh hanya sekitar 10 hingga 20 % dari energi yang dihasilkan oleh makanan yang mereka makan.
Karena begitu banyaknya energi yang lepas sebagai panas pada setiap langkah dari rantai makanan, semua ekosistem mengembangkan sebuah piramida energi. Tanaman sebagai produsen menempati bagian dasar piramid, herbivora (konsumen pertama) membentuk bagian berikutnya, dan karnivora (komsumen kedua) membentuk puncak piramida. Piramid tersebut mencerminkan kenyataan bahwa banyak energi yang melewati tanaman dibandingkan dengan herbivora, dan lebih banyak yang melalui herbivora dibandingkan dengan karnivora.
Di dalam ekosistem-ekosistem daratan piramida energi tersebut menghasilkan sebuah piramida biomasa (berat). Ini berarti bahwa berat total dari tanaman-tanaman adalah lebih besar dibandingkan dengan berat total herbivora yang melampaui berat total karnivora. Tetapi di dalam lautan biomasa (berat) tanaman-tanaman dan binatang-binatang adalah sama.
Ahli-ahli ekologi mengumpulkan informasi pada sebuah piramida biomasa pada Isle Royale. Mereka meneliti hubungan piramida diantara tanaman, rusa dan serigala. Dalam sebuah penelitian mereka menemukan bahwa diperlukan tanaman seberat 346 kg untuk makanan rusa seberat 27 kg. Rusa seberat inilah yang diperlukan untuk makanan serigala seberat 0,45 kg.
Perputaran material-material
Semua benda hidup terdiri dari unsur-unsur kimia tertentu dan senyawa-senyawa kimia. Diantaranya adalah air, karbon, hidrogen, nitrogen, oksigen, fospor dan sulfur. Semua material-material ini berputar melalui ekosistem secara terus menerus. Perputaran fospor misalnya, semua organisme membutuhkan fospor. Tanaman mengambil senyawa fospor dari dalam tanah dan binatang memperoleh fospor dari tanaman dan binatang lainya yang dimakan. Pengurai mengembalikan fospor ke dalam tanah setelah tanaman dan binatang mati.
Di alam ekosistem-ekosistem yang tidak terganggu jumlah fosfor adalah tetap, tetapi ketika sebuah ekosistem terganggu terutama oleh aktifitas manusia, fospor seringkali bocor keluar. Hal ini akan mengurangi kemampuan ekosistem untuk mendukung kehidupan tanaman. Salah satu contoh adalah ketika manusia merubah hutan menjadi lahan pertanian. Dengan tidak adanya hutan yang melindungi maka fospor hanyut bersama tanah dan tersapu ke dalam sungai atau danau. Hal ini sangat mengganggu pertumbuhan algae. Pada akhirnya fospor terjebak di dalam endapan lumpur di dasar danau atau lautan. Karena kehilangan fospor maka petani harus membeli pupuk yang mahal untuk mengembalikan unsur fospor tersebut kedalam tanah
Perubahan ekosistem muncul setiap hari, secara musiman dan ketika terjadi suksesi (peralihan) ekologi sepanjang masa. Kadangkala perubahan terjadi secara berulang-ulang dan secara mendadak, seperti ketika terjadi kebakaran hutan atau ombak tsunami yang menyapu pantai. Perubahan yang paling terjadi dari hari ke hari terutama pada lingkaran nutrien, yang tidak kelihatan sekali, ekosistem-ekosistem kelihatannya cenderung stabil. Kestabilan yang nyata diantara tanaman dan binatang dan lingkungannya disebut keseimbangan alam.

sumber : http://www.langsing.net/gunung/artikel/lingkungan/ekologi.html

Interaksi antar organisme

Semua makhluk hidup selalu bergantung kepada makhluk hidup yang lain. Tiap individu akan selalu berhubungan dengan individu lain yang sejenis atau lain jenis, baik individu dalam satu populasinya atau individu-individu dari populasi lain. Interaksi demikian banyak kita lihat di sekitar kita.
Interaksi antar organisme dalam komunitas ada yang sangat erat dan ada yang kurang erat. Interaksi antarorganisme dapat dikategorikan sebagai berikut.
a. Netral
Hubungan tidak saling mengganggu antarorganisme dalam habitat yang sama yang bersifat tidak menguntungkan dan tidak merugikan kedua belah pihak, disebut netral. Contohnya : antara capung dan sapi.
b. Predasi
Predasi adalah hubungan antara mangsa dan pemangsa (predator). Hubungan ini sangat erat sebab tanpa mangsa, predator tak dapat hidup. Sebaliknya, predator juga berfungsi sebagai pengontrol populasi mangsa. Contoh : Singa dengan mangsanya, yaitu kijang, rusa,dan burung hantu dengan tikus.
c. Parasitisme
Parasitisme adalah hubungan antarorganisme yang berbeda spesies, bilasalah satu organisme hidup pada organisme lain dan mengambil makanan dari hospes/inangnya sehingga bersifat merugikan inangnya.
contoh : Plasmodium dengan manusia, Taeniasaginata dengan sapi, dan benalu dengan pohon inang. Perhatikan Gambar 6.15
d. Komensalisme
Komensalisme merupakan hubunganantara dua organisme yang berbeda spesies dalam bentuk kehidupan bersama untuk berbagi sumber makanan; salah satu spesies diuntungkan dan spesies lainnya tidak dirugikan. Contohnya anggrek dengan pohon yang ditumpanginya.
e. Mutualisme
Mutualisme adalah hubungan antara dua organisme yang berbeda spesies yang saling menguntungkan kedua belah pihak. Contoh, bakteri Rhizobium yang hidup pada bintil akar kacang-kacangan.
B. Interaksi Antarpopulasi
Antara populasi yang satu dengan populasi lain selalu terjadi interaksi secara langsung atau tidak langsung dalam komunitasnya.Contoh interaksi antarpopulasi adalah sebagai berikut.

Alelopati merupakan interaksi antarpopulasi, bila populasi yang satu menghasilkan zat yang dapat menghalangi tumbuhnya populasi lain. Contohnya, di sekitar pohon walnut (juglans) jarang ditumbuhi tumbuhan lain karena tumbuhan ini menghasilkan zat yang bersifat toksik. Pada mikroorganisme istilah alelopati dikenal sebagai anabiosa.Contoh, jamur Penicillium sp. dapat menghasilkan antibiotika yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri tertentu.
Kompetisi merupakan interaksi antarpopulasi, bila antarpopulasi terdapat kepentingan yang sama sehingga terjadi persaingan untuk mendapatkan apa yang diperlukan. Contoh, persaingan antara populasi kambing dengan populasi sapi di padang rumput.
C. Interaksi Antar Komunitas
Komunitas adalah kumpulan populasi yang berbeda di suatu daerah yang sama dan saling berinteraksi. Contoh komunitas, misalnya komunitas sawah dan sungai. Komunitas sawah disusun oleh bermacam-macam organisme, misalnya padi, belalang, burung, ular, dan gulma. Komunitas sungai terdiri dari ikan, ganggang, zooplankton, fitoplankton, dan dekomposer. Antara komunitas sungai dan sawah terjadi interaksi dalam bentuk peredaran nutrien dari air sungai ke sawah dan peredaran organisme hidup dari kedua komunitas tersebut.
Interaksi antarkomunitas cukup komplek karena tidak hanya melibatkan organisme, tapi juga aliran energi dan makanan. Interaksi antarkomunitas dapat kita amati, misalnya pada daur karbon. Daur karbon melibatkan ekosistem yang berbeda misalnya laut dan darat. Lihat Gambar 6.16.
D. Interaksi Antarkomponen Biotik dengan Abiotik
Interaksi antara komponen biotik dengan abiotik membentuk ekosistem. Hubunganantara organisme dengan lingkungannya menyebabkan terjadinya aliran energi dalam sistem itu. Selain aliran energi, di dalam ekosistem terdapat juga struktur atau tingkat trofik, keanekaragaman biotik, serta siklus materi.
Dengan adanya interaksi-interaksi tersebut, suatu ekosistem dapat mempertahankan keseimbangannya. Pengaturan untuk menjamin terjadinya keseimbangan ini merupakan ciri khas suatu ekosistem. Apabila keseimbangan ini tidak diperoleh maka akan mendorong terjadinya dinamika perubahan ekosistem untuk mencapai keseimbangan baru.
sumber : http://free.vlsm.org/v12/sponsor/Sponsor-Pendamping/Praweda/Biologi/0028%20Bio%201-6c.htm

Jumat, April 18, 2008

Konservasi di Indonesia

Konservasi di Indonesia

Muhamad Faris Marino


Siswa Sekolah Menengah Atas Negeri 109 Jakarta


Apa kabar? Suatu kalimat sapaan yang biasa digunakan untuk menanyakan sesuatu, tentang kabar/berita/warta. Biasanya terlontar setelah tak lama berjumpa. Apa kabar Konservasi di alam Indonesia? Ketika isu perubahan iklim menjadi tren baru di dunia lingkungan, warta konservasi alam di Indonesia ini seakan terlupakan. Memang, di tengah menipisnya cadangan minyak dunia serta merajalelanya industri yang berdampak pada meningkatnya suhu udara di permukaan bumi, isu perubahan iklim seakan menjadi hangat. Sehangat dampak yang ditimbulkannya.
Padahal, ketika isu itu ramai dibicarakan, konservasi pun menjadi terlupakan. Habitat-habitat tempat para flora dan fauna tersisa yang ditinggali, tiap detik terus berkurang dan terus menggusur kelompok-kelompok makhluk endemik yang tersisa. Ini penting, begitu pun semua isu tentang lingkungan, sangat penting untuk diperhatikan. Jadi, harus ada porsi yang berimbang, karena satu sama lain saling berkaitan. Seperti sebuah siklus yang akan terputus jika hanya satu mata rantai yang dijaga.
Fragmentasi dan konversi kegunaaan suatu habitat merupakan suatu masalah utama yang dihadapi oleh seluruh kehidupan liar di Indonesia. Setiap detik populasinya kian terancam. Perlindungan hutan sebagai habitat serta sumber makanan merupakan salah satu cara agar kehidupan liar ini tidak masuk ke jurang degradasi kepunahan.
Seperti apa yang terjadi di Cagar Alam Leuweung Sancang (CALS), Kecamatan Cibalong, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Kawasan dengan luas 2.157 hektar ini, kini hanya tersisa sekitar 20% saja areal yang berupa hutan. Konversi habitat, perladangan, perburuan dan penambangan merupakan beberapa masalah utama yang menjadi ancaman di sini. Hal ini menjadikan Hutan Sancang yang dulu dikenal dengan keangkerannya kini seakan tak bertuah. Hutan sebagai sumber makanan bagi para primata serta satwa-satwa lainnya lambat laun terus berkurang. Bahkan kerusakan yang telah berlangsung lebih dari tiga puluh tahun ini telah memusnahkan keperkasaan banteng yang kini hanya tinggal cerita di Sancang.


Sejarah Panjang Kerusakan Habitat


Fragmentasi dan konversi habitat merupakan masalah utama yang dihadapi oleh hampir semua habitat satwa di Indonesia. Hal yang juga secara khusus telah menghancurkan spesies primata di Indonesia. The Primate Specialist Group dari Badan Konservasi Dunia (IUCN) telah menetapkan dua spesies, yaitu Orangutan Sumatera (Pongo pygmaeus) dan Owa Jawa (Hylobates moloch), sebagai spesies yang menduduki peringkat tertinggi pada daftar dua puluh lima primata yang terancam punah.
Menurut data dari Biro Pusat Statistik, sebagai sebuah pulau yang memiliki luas sekitar 130.000 km2, pertumbuhan manusia yang pesat di Jawa telah menjadikan pulau ini penuh sesak selama dua ratus tahun terakhir. Padahal, sebelum kemerdekaan Indonesia, pemerintahan Belanda pernah mencoba untuk merelokasi beberapa populasi manusia ke pulau-pulau lain, untuk mengurangi tekanan terhadap lingkungan. Angka pertumbuhan penduduk mulai tumbuh pesat pada abad 19 sampai abad 20. Dalam empat puluh tahun dari 1961 sampai 2001, pertumbuhan di pulau terpadat di Indonesia ini hampir dua kali lipat dari 63 juta sampai 115 juta.
Perkembangan populasi manusia ini, serta sejarah panjang dari pertanian, seribu tahun yang lalu secara signifikan telah mengurangi luas hutan di Jawa. Whitten et al (1996) memperkirakan, dalam kurun waktu tersebut adanya kehilangan lebih dari satu setengah juta hektar tanah pertanian dan lahan tanaman berkayu/hutan. Sebagian besar hutan-hutan alami yang tersisa sekarang berada di daerah-daerah yang telah dilindungi secara khusus, seperti Taman Nasional dan sejenisnya.
Pulau Jawa kembali kehilangan hutannya ——signifikan terjadi setelah adanya kebijakan tentang pengelolaan hutan yang terdesentralisasi di tingkat daerah. Departemen Kehutanan (2001), menyatakan bahwa lima tahun selepas diterapkannya kebijakan ini ——dari data hasil pencitraan satelit— selama sepuluh tahun, mulai dari 1985 sampai 1997, telah terjadi pengurangan luas hutan yang sangat besar. Beberapa meliputi area yang dilindungi. Hutan di Cagar Alam Gunung Simpang Tilu pada masa itu berkurang hampir lima belas persen dari luas 15.000 hektar. Taman Nasional Ujung Kulon kehilangan empat persen dari luasan 76.100 hektar. Taman Nasional Gunung Halimun kehilangan dua setengah persen dari luas 42.000 hektar.
Menurut penulis, pengrusakan fungsi dan luas hutan harus dihentikan. Karena, bila tidak dihentikan segera, makin banyak keanekargaman hayati yang tersebar luas di tanah air ini akan hilang dimakan waktu.
Maka itu, perlu dicetuskan suatu upaya pelestarian atau konservasi terhadap ekologi keanekaragaman hayati ini. Upaya tersebut bisa berwujud suatu taman margasatwa, cagar alam, konservasi in-situ dan konservasi Eks-situ.

Konservasi sebagai Solusi

Konservasi keanekaragaman hayati berpedoman pada pengelolaan konservasi di tiga tingkat keanekaragaman hayati yaitu:
1.Tingkat ekosistem,
2.Tingkat jenis dan
3.Tingkat genetik secara terintegrasi dan komprehensif.
Untuk itu tujuan jangka panjang Konservasi Keanekaragaman Hayati harus dapat menjamin kelestarian fungsi ekosistem esensial sebagai penyangga kehidupan terutama di luar kawasan konservasi.
Pada tingkat spesies, konservasi dalam jangka panjang bertujuan untuk mencegah terjadinya kepunahan jenis yang diakibatkan oleh penyebab utama terancamnya jenis dari kepunahan yaitu kerusakan habitat dan pemanfaatan (termasuk perdagangan) yang tidak terkendali. Bagi jenis-jenis yang populasinya sudah dalam kondisi kritis maka pengelolaannya harus diarahkan pada pemulihan populasi (population recovery) dengan berbagai cara termasuk perbaikan habitat, rehabilitasi satwa hasil sitaan serta penangkaran untuk dilepas kembali ke alam (conservation breeding).
Pada tingkat genetik, konservasi keanekaragaman genetik diarahkan pada konservasi in-situ di dalam dan di luar konservasi maupun konservasi eks-situ. Arah pengelolaan sumber daya genetik di masa depan adalah pemanfaatan sumber daya genetik untuk mendukung pengembangan budidaya tanaman maupun ternak melalui pengembangan kultivar-kultivar unggul.
Konservasi in-situ adalah kondisi sumber daya genetik yang terdapat di dalam ekosistem dan habitat alami serta pemeliharaan dan pemulihan populasi jenis-jenis berdaya hidup dalam lingkungan alaminya, dan dalam hal jenis-jenis terdomestikasi atau budidaya, di dalam lingkungan tempat sifat-sifat khususnya berkembang. Konservasi in-situ biasanya berwujud cagar alam.
Salah satu contoh konservasi in-situ di Indonesia adalah Taman Nasional Ujung Kulon. Taman nasional ini dinilai WWF telah berhasil melakukan konservasi in-situ karena dapat mengontrol jumlah populasi badak jawa.
Menurut WWF (2006), populasi badak di Jawa masih bisa terus berkembang. Adanya temuan foto pada Juli 2006 yang menggambarkan induk badak bersama anaknya memberikan harapan bahwa populasinya masih terus berkembang. Gambar-gambar tersebut tertangkap oleh salah satu kamera intai dari total 26 kamera intai yang dipasang di Taman Nasional Ujung Kulon. Temuan gambar anak Badak Jawa tersebut - didentifikasi dari foto kamera intai dan ukuran jejak kaki - memberikan harapan baru dan dorongan untuk upaya konservasi bagi mamalia besar ini. Kita meyakini bahwa ini waktu yang tepat untuk menggiatkan kembali upaya-upaya kita untuk menyelamatkan masa depan Badak Jawa.
Konservasi eks-situ adalah konservasi komponen-komponen keanekaragaman hayati diluar habitat alaminya.
Konservasi eks-situ dapat juga dilakukan secara in-vitro dengan memanfaakan teknik kultur jaringan.Teknik ini digunakan untuk penyimpanan plasma nutfah dalam jangka panjang dalam jumlah sampai dengan 10 botol setiap aksesi.
Hal yang perlu diperhatikan dalam konservasi eks-situ adalah rejuvenasi (peremajaan). Pada konservasi dengan penyimpanan benih pada jangka waktu tertentu, maka rejuvenasi diperlukan terhadap benih-benih yang telah mengalami penurunan vitabilitas. Rejuvenasi dapat dilakukan secara bergilir atau berkala 2-3 tahun sekali, tergantung kepada komoditas dan keadaan. Tentunya rejuvenasi dimaksudkan untuk memperoleh benih yang baru. Pada pelestarian tanaman semusim di lapang (yang diperbanyak secara vegetatif; misalnya ubijalar dan ubikayu), maka rejuvenasi dilakukan segera setelah panen.

Konservasi dengan Aspek Sosial


Dalam praktek di lapangan, kerap kali masih ditemukan pengertian dan persepsi tentang konservasi yang keliru, yaitu seolah-olah konservasi melarang total pemanfataan biosfir. Berlandaskan pada pengertian tersebut masyarakat, khususnya penduduk setempat yang bermukim di sekitar kawasan konservasi, dilarang keras untuk dapat menikmati berbagai manfaat yang diberikan oleh lingkungan sekitarnya. Penduduk dipisahkan dengan lingkungannya secara paksa, padahal mereka secara turun-temurun telah lama tinggal di wilayahnya.
Penerapan konservasi yang hanya menekankan pada aspek perlindungan alam fisik (flora dan fauna), tanpa melibatkan aspirasi dan kepentingan sosial ekonomi dan budaya penduduk sekitarnya, cepat atau lambat akan menemui kesulitan. Konservasi semacam itu juga tidak mungkin mencapai tujuan mulia konservasi alam, yaitu yang berwawasan lingkungan dan memberikan manfaat secara adil untuk segenap lapisan masyarakat.

Saran dan Kesimpulan

Konservasi melibatkan berbagai faktor ekologi fisik, sosial ekonomi dan budaya masyarakat sebagai sebuah kesatuan.
Pada prinsipnya konservasi satwa liar bertujuan pertama-tama menciptakan kondisi keberlanjutan kehidupan satwa liar sebagai bagian dari habitatnya. Artinya konservasi satwa liar adalah konservasi biodiversity, yaitu, satwa dan lingkungan hidupnya (habitatnya) beserta seluruh ekosistem (tumbuhan, mikroorganisma, hewan lain, tanah, air dan ketergantungan diantara mereka).
Dalam konservasi alam, baik in-situ ataupun eks-situ, perlu selalu diingat bahwa alam dan segala isinya ini adalah untuk keseimbangan kehidupan antara manusia dan lingkungannya. Maka manusia sebagai mahluk terpintar perlu melestarikan, mempelajari dan memanfaatkan secara lestari seluruh isi alam, termasuk satwa liar. Sekali lagi, itu adalah prinsip kita (manusia) berhubungan dengan alam, yaitu save it, study it and use it, tapi secara lestari, untuk kehidupan masa kini dan akan datang.

linkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...