Pernah mendengar berita bahwa Indonesia Juara olimpiade matematika, fisika, bahkan sains? "Sering" mungkin itu jawabnya.
Jangan Bangga dulu! Gelar tersebut kemungkinan hanya "anomali" dari anak yang dimiliki oleh segelintir anak Indonesia yang diberi kelebihan oleh Tuhan. Namun kemapuan matematika dan sain anak indonesia secara umum bisa jadi sangatlah lemah.
Indonesia berada di peringkat dua dari bawah untuk skor matematika dalam survei Progamme for International Student Assessment (PISA) 2012 yang baru dirilis awal Desember ini.
PISA merupakan sistem penilaian internasional yang menitikberatkan pada kemampuan anak usia 15 tahun dalam bidang membaca, matematika dan sains.
Dari 65 negara yang masuk survei PISA, Indonesia menduduki peringkat ke 64, satu tingkat di atas Peru.
The Guardian menjelaskan secara rinci nilai yang diperoleh di masing-masing bidang: Indonesia memperoleh skor 375 di bidang matematika, 396 soal bidang membaca, dan 382 untuk sains, dari skor rata-rata internasional (500).
Minggu, Desember 08, 2013
Sabtu, Desember 07, 2013
"Malas" : Pemicu Pengusaha Sukses
Hah? Jadi pengusaha cuma buat orang yang malas? Jangan becanda, Kak! Saya orang rajin lho dan saya pengusaha sukses! Eits, eits.. tunggu dulu dong. Itu yang bilang Mas Mono loh. Tahu kan Mas Mono? Itu loh pengusaha sukses Ayam Bakar Mas Mono.. Nah, Mas Mono pernah bilang tuh waktu saya berdiskusi dengan beliau (semoga beliau sih masing ingat, hehe..). Jadi waktu itu dia pernah mengatakan bahwa sebenarnya ga semua orang cocok jadi pengusaha. Walaupun memang sebenarnya semua orang bisa jadi pengusaha. Penasaran apa maksudnya? Yuk, baca artikelnya lebih lanjut..
Malas? Ya, beneran malas. Kata Mas Mono cuma orang malaslah yang sukses jadi pengusaha. Ada 5 kategori malas nih yang bisa bikin orang bisa jadi pengusaha sukses.
1. Malas Kalau Rezekinya Cuma Segitu
Rasulullah kan pernah bilang, 9 dari 10 kunci rezeki itu ada di perdagangan. Sementara berdagang adalah jantungnya berwirausaha. Jadi, ya pengusaha itu memang cuma cocok bagi orang yang malas kalau rezekinya segitu-segitu aja. Karena dia merasa kalau rezekinya cuma segitu maka kontribusi dan dampak yang dia berikan juga segitu aja (beda kalau rezekinya lebih besar)
2. Malas Kalau Manfaatnya Cuma Segitu
“Sebaik-baik manusia adalah manusia yang bermanfaat bagi sesamanya.” Siapa bilang jadi pengusaha itu hanya memikirkan profit dan untung? Menjadi pengusaha kan berarti kita mencoba membantu pelanggan kita untuk memenuhi kebutuhan mereka kan? Disitulah titik pentingnya. Jika kamu masih berpikir bahwa pengusaha itu landasannya adalah keinginan untuk kaya, akan kalah sama pengusaha yang landasannya ingin membantu orang. Beneran lho.
3. Malas Kalau Usahanya Cuma Ada Satu
Nah kalau yang ini dari Mas Mono nih. Ibarat rezeki adalah sungai yang mengalir, maka jangan siapkan satu ember buat menganbilnya. Buatlah 2, 3, 4, bahkan berbelas-belas ember agar mengambilnya lebih cepat. Hehe.. Tapi tentunya fokuskan dulu pada usaha yang sedang kita bangun. Kalau sudah mapan, barulah membuat usaha-usaha yang lain.
4. Malas kalau Temannya Cuma Segitu
“Silaturahmi itu memanjangkan umur dan melapangkan rezeki.” Nah, itu memang benar. Pengusaha sukses itu rata-rata malas kalau temannya cuma segitu-segitu aja. Jaringannya luas dan bisa saling memberi manfaat. Jadi, kalau kamu malas temanmu segitu-gitu aja, maka menjadi pengusaha adalah upaya yang cocok banget buat kamu. Hehe..
5. Malas Kalau Ilmunya Cuma Segitu
Ini juga penting lho. Karena kalau menjadi pengusaha itu kan dituntut untuk terus kreatif dan inovatif terkait pergeseran dan perkembangan usaha yang sangat cepat dan kompetitif apalagi di masa yang sekarang ini. Iya kan? Beda sama mereka yang mungkin kerjanya itu-itu saja maka memang akan sulit mengembangkan ilmu. Tetapi kalau pengusaha, ilmu ga berkembang ya terancam bangkrut.
6. Malas Kalau Ibadahnya Cuma Segitu
Yang ini spesial nih. Menjadi pengusaha itu berpotensi membuka pintu-pintu ibadah yang lain. Misalnya, meningkatkan jumlah zakat, meningkatkan jumlah sedekah, membangun masjid atau tempat ibadah, dan lain sebagainya. Jadi buat mereka yang memang malas kalau ibadahnya cuma segitu, bisa sedekahnya cuma segitu, dan zakatnya cuma segitu-gitu aja, maka menjadi pengusaha cocok untuk kamu. Hehe..
Oke. jadi itu dia alasan kenapa hanya orang malaslah yang cocok jadi pengusaha. Pengusaha itu kan sebenarnya merupakan pilihan profesi. Tapi, kalau kamu memang ga cocok ya ga usah jadi pengusaha. Masih banyak pilihan profesi lainnya. Hehe..
Bagaimana menurut kamu?
Malas? Ya, beneran malas. Kata Mas Mono cuma orang malaslah yang sukses jadi pengusaha. Ada 5 kategori malas nih yang bisa bikin orang bisa jadi pengusaha sukses.
1. Malas Kalau Rezekinya Cuma Segitu
Rasulullah kan pernah bilang, 9 dari 10 kunci rezeki itu ada di perdagangan. Sementara berdagang adalah jantungnya berwirausaha. Jadi, ya pengusaha itu memang cuma cocok bagi orang yang malas kalau rezekinya segitu-segitu aja. Karena dia merasa kalau rezekinya cuma segitu maka kontribusi dan dampak yang dia berikan juga segitu aja (beda kalau rezekinya lebih besar)
2. Malas Kalau Manfaatnya Cuma Segitu
“Sebaik-baik manusia adalah manusia yang bermanfaat bagi sesamanya.” Siapa bilang jadi pengusaha itu hanya memikirkan profit dan untung? Menjadi pengusaha kan berarti kita mencoba membantu pelanggan kita untuk memenuhi kebutuhan mereka kan? Disitulah titik pentingnya. Jika kamu masih berpikir bahwa pengusaha itu landasannya adalah keinginan untuk kaya, akan kalah sama pengusaha yang landasannya ingin membantu orang. Beneran lho.
3. Malas Kalau Usahanya Cuma Ada Satu
Nah kalau yang ini dari Mas Mono nih. Ibarat rezeki adalah sungai yang mengalir, maka jangan siapkan satu ember buat menganbilnya. Buatlah 2, 3, 4, bahkan berbelas-belas ember agar mengambilnya lebih cepat. Hehe.. Tapi tentunya fokuskan dulu pada usaha yang sedang kita bangun. Kalau sudah mapan, barulah membuat usaha-usaha yang lain.
4. Malas kalau Temannya Cuma Segitu
“Silaturahmi itu memanjangkan umur dan melapangkan rezeki.” Nah, itu memang benar. Pengusaha sukses itu rata-rata malas kalau temannya cuma segitu-segitu aja. Jaringannya luas dan bisa saling memberi manfaat. Jadi, kalau kamu malas temanmu segitu-gitu aja, maka menjadi pengusaha adalah upaya yang cocok banget buat kamu. Hehe..
5. Malas Kalau Ilmunya Cuma Segitu
Ini juga penting lho. Karena kalau menjadi pengusaha itu kan dituntut untuk terus kreatif dan inovatif terkait pergeseran dan perkembangan usaha yang sangat cepat dan kompetitif apalagi di masa yang sekarang ini. Iya kan? Beda sama mereka yang mungkin kerjanya itu-itu saja maka memang akan sulit mengembangkan ilmu. Tetapi kalau pengusaha, ilmu ga berkembang ya terancam bangkrut.
6. Malas Kalau Ibadahnya Cuma Segitu
Yang ini spesial nih. Menjadi pengusaha itu berpotensi membuka pintu-pintu ibadah yang lain. Misalnya, meningkatkan jumlah zakat, meningkatkan jumlah sedekah, membangun masjid atau tempat ibadah, dan lain sebagainya. Jadi buat mereka yang memang malas kalau ibadahnya cuma segitu, bisa sedekahnya cuma segitu, dan zakatnya cuma segitu-gitu aja, maka menjadi pengusaha cocok untuk kamu. Hehe..
Oke. jadi itu dia alasan kenapa hanya orang malaslah yang cocok jadi pengusaha. Pengusaha itu kan sebenarnya merupakan pilihan profesi. Tapi, kalau kamu memang ga cocok ya ga usah jadi pengusaha. Masih banyak pilihan profesi lainnya. Hehe..
Bagaimana menurut kamu?
sumber: arryrahmawan.net
Categories :
Business,
Motivation,
Tips
Senin, Desember 02, 2013
Hari AIDS Sedunia, Bukan Perayaan tapi Peringatan
Tidak dapat dipungkiri lagi, bahwa pada masa ini hampir setiap individu sudah terjangkiti suatu penyakit yang tidak berbahaya namun meresahkan sebagian orang yang telah menyadari apa arti penyakit ini. Seiring berkembangnya sosial media saat ini, maka semakin gencar pulalah perayaan (update status) “ucapan selamat” di akun sosial media sekarang ini. Bukan sosial media dan perayaan itu yang disalahkan, namun pemikiran orang yang melakukan hal itulah yang wajib dipertanyakan dan dikoreksi ulang.
Layaknya hari besar yang lain, ucapan “selamat” dalam menyambut suatu perayaan adalah hal yang sederhana dan biasa-biasa saja jika dilontarkan untuk mengisi peringatan atau perayaan seperti “Selamat Hari Ibu” ataupun “Selamat Hari Guru”. Namun yang menjadi pertanyaannya adalah jika ada yang mengupdate status di sosial medianya yaitu “ Selamat Hari Aids Sedunia”.
Pertanyaan menariknya adalah pantaskah ucapan “Selamat” itu untuk mendeskripsikan peringatan Hari AIDS Sedunia ini ? “Selamat” untuk siapa ? dan Apa yang terjadi sehingga diucapkan kata “Selamat” ?
Bukan Perayaan melainkan Peringatan
Tanggal 1 Desember bukanlah suatu perayaan melainkan suatu peringatan akan kewaspadaan serta meningkatkan kesadaran untuk pencegahan terhadap sindrom penurunan sistem kekebalan tubuh akibat infeksi virus HIV (Human Immune deficiency Virus). Kekebalan tubuh bisa sangat menurun terjadi pada keadaan akibat transpalantasi organ atau supresi oleh karena obat-obatan steroid, dengan kata lain bukan dikarenakan HIV saja. Jadi, tentu selama ini sebagian masyarakat salah kaprah, mungkin dikarenakan asyik merayakan suatu perayaan di sosial medianya sampai-sampai mereka lupa bahwa “Hari Aids Sedunia” beda dengan hari perayaan lainnya, serta “Hari Aids Sedunia” bukan sebagai bentuk perayaan namun sebagai peringatan keras akan bahaya sindrom ini.
Ancaman Bahaya HIV/AIDS
Tidak dapat dipungkiri lagi, bahwasanya virus HIV dan penyakitnya AIDS tidak hanya berhasil memberikan ancaman sebagai virus yang mematikan bagi yang terinfeksi, tetapi juga juga berhasil menyebabkan parno berat dalam masyarakat. Sebagai contoh, kalangan medis yang akan menangani masalah sindrom penurunan sistem kekebalan ini akan sangat berhati-hati ketika berhadapan dengan kasus ini. Betapa tidaknya, meskipun kalangan medis sudah dibekali dengan pengetahuan yang tinggi dibanding masyarakat awam serta bekerja sesuai dengan prosedur serta berbasis kompetensi namun hal ini membutuhkan kewaspadaan yang ekstra bahkan dapat dipastikan terselip rasa takut apabila terjadi “kecelakaan atau sesuatu yang tidak diinginkan” ketika mengoperasikan alat-alat kedokteran saat bersentuhan dengan cairan tubuh penderita HIV/AIDS ini.
Begitu pula paranoid (kewaspadaan) ini menjangkiti masyarakat awam secara umum. Kewaspadaan pun mutlak dan sepatutnya dirasakan oleh orang-orang yang dekat dengan kasus ini, seperti keluarga penderita, pengguna narkoba dan pekerja dunia kelam (seks komersial) yang mendominasi berisiko tinggi terjangkit penyakit ini. Namun demikian, masyarakat yang menurut lingkungan dan perilakunya bisa dikatakan minim beresiko, bisa jadi tertular penyakit ini. Sebagai contoh mirisnya kasus ini adalah bayi-bayi yang baru lahir yang tidak berdosa bisa jadi korban akibat tertular melalui transmisi perinatal, tertular ibu kandung yang terinfeksi virus HIV dalam tubuhnya cukup tinggi baik saat kehamilan, persalinan, maupun saat masa menyusui.
Begitu mirisnya paranoid pada kasus sindrom penurunan system kekebalan ini, baik di kalangan paramedis, masyarakat yang beresiko tinggi hingga masyarakat yang minim sekali resikonya untuk terjangkit virus ini. Peringatan atau bahkan perayaan terhadap Hari Aids Sedunia semestinya dijadikan sebagai momentum untuk berintrospeksi diri, untuk saling mengingatkan tentang bahaya HIV/AIDS dengan catatan tidak hanya membuat baliho dengan slogan “ Bahaya AIDS” tetapi juga memberikan informasi dan pendidikan kepada msyarakat secara umum, serta tidak hanya membuat kegiatan atau dalam skala kecil yaitu update status di akun sosial media yang bertema perayaan HIV/AIDS ini, karena yakinlah seorang yang terjangkiti penyakit ini tidak akan merayakan keadaannya, bahkan ia akan memilih lebih baik mengakhiri hidupnya daripada harus mengidap penyakit berbahaya ini.
Lara Novianti
Humas KAMMI Tanjungpinang
Layaknya hari besar yang lain, ucapan “selamat” dalam menyambut suatu perayaan adalah hal yang sederhana dan biasa-biasa saja jika dilontarkan untuk mengisi peringatan atau perayaan seperti “Selamat Hari Ibu” ataupun “Selamat Hari Guru”. Namun yang menjadi pertanyaannya adalah jika ada yang mengupdate status di sosial medianya yaitu “ Selamat Hari Aids Sedunia”.
Pertanyaan menariknya adalah pantaskah ucapan “Selamat” itu untuk mendeskripsikan peringatan Hari AIDS Sedunia ini ? “Selamat” untuk siapa ? dan Apa yang terjadi sehingga diucapkan kata “Selamat” ?
Bukan Perayaan melainkan Peringatan
Tanggal 1 Desember bukanlah suatu perayaan melainkan suatu peringatan akan kewaspadaan serta meningkatkan kesadaran untuk pencegahan terhadap sindrom penurunan sistem kekebalan tubuh akibat infeksi virus HIV (Human Immune deficiency Virus). Kekebalan tubuh bisa sangat menurun terjadi pada keadaan akibat transpalantasi organ atau supresi oleh karena obat-obatan steroid, dengan kata lain bukan dikarenakan HIV saja. Jadi, tentu selama ini sebagian masyarakat salah kaprah, mungkin dikarenakan asyik merayakan suatu perayaan di sosial medianya sampai-sampai mereka lupa bahwa “Hari Aids Sedunia” beda dengan hari perayaan lainnya, serta “Hari Aids Sedunia” bukan sebagai bentuk perayaan namun sebagai peringatan keras akan bahaya sindrom ini.
Ancaman Bahaya HIV/AIDS
Tidak dapat dipungkiri lagi, bahwasanya virus HIV dan penyakitnya AIDS tidak hanya berhasil memberikan ancaman sebagai virus yang mematikan bagi yang terinfeksi, tetapi juga juga berhasil menyebabkan parno berat dalam masyarakat. Sebagai contoh, kalangan medis yang akan menangani masalah sindrom penurunan sistem kekebalan ini akan sangat berhati-hati ketika berhadapan dengan kasus ini. Betapa tidaknya, meskipun kalangan medis sudah dibekali dengan pengetahuan yang tinggi dibanding masyarakat awam serta bekerja sesuai dengan prosedur serta berbasis kompetensi namun hal ini membutuhkan kewaspadaan yang ekstra bahkan dapat dipastikan terselip rasa takut apabila terjadi “kecelakaan atau sesuatu yang tidak diinginkan” ketika mengoperasikan alat-alat kedokteran saat bersentuhan dengan cairan tubuh penderita HIV/AIDS ini.
Begitu pula paranoid (kewaspadaan) ini menjangkiti masyarakat awam secara umum. Kewaspadaan pun mutlak dan sepatutnya dirasakan oleh orang-orang yang dekat dengan kasus ini, seperti keluarga penderita, pengguna narkoba dan pekerja dunia kelam (seks komersial) yang mendominasi berisiko tinggi terjangkit penyakit ini. Namun demikian, masyarakat yang menurut lingkungan dan perilakunya bisa dikatakan minim beresiko, bisa jadi tertular penyakit ini. Sebagai contoh mirisnya kasus ini adalah bayi-bayi yang baru lahir yang tidak berdosa bisa jadi korban akibat tertular melalui transmisi perinatal, tertular ibu kandung yang terinfeksi virus HIV dalam tubuhnya cukup tinggi baik saat kehamilan, persalinan, maupun saat masa menyusui.
Begitu mirisnya paranoid pada kasus sindrom penurunan system kekebalan ini, baik di kalangan paramedis, masyarakat yang beresiko tinggi hingga masyarakat yang minim sekali resikonya untuk terjangkit virus ini. Peringatan atau bahkan perayaan terhadap Hari Aids Sedunia semestinya dijadikan sebagai momentum untuk berintrospeksi diri, untuk saling mengingatkan tentang bahaya HIV/AIDS dengan catatan tidak hanya membuat baliho dengan slogan “ Bahaya AIDS” tetapi juga memberikan informasi dan pendidikan kepada msyarakat secara umum, serta tidak hanya membuat kegiatan atau dalam skala kecil yaitu update status di akun sosial media yang bertema perayaan HIV/AIDS ini, karena yakinlah seorang yang terjangkiti penyakit ini tidak akan merayakan keadaannya, bahkan ia akan memilih lebih baik mengakhiri hidupnya daripada harus mengidap penyakit berbahaya ini.Lara Novianti
Humas KAMMI Tanjungpinang
[http://suar.okezone.com/]
Langganan:
Postingan (Atom)

