Tampilkan postingan dengan label Music. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Music. Tampilkan semua postingan

Minggu, Desember 08, 2013

Satu Demi Satu Toko Musik Aquarius Ditutup

Halamannya cukup luas. Bisa menampung tujuh mobil dan belasan motor terparkir di sana. Berdiri di Jalan Mahakam 1 nomor 3, Jakarta Selatan. Gedung itu bercat putih, dindingnya masih terawat, meski gedung ini telah berdiri sejak 1989. Nama AQUARIUS terpampang besar-besar di depannya.

Tiga banner bergambar album baru dari tiga musisi masih menghiasi halaman parkir. Tapi, ada yang lebih menarik, spanduk bertuliskan ‘diskon 50%’ kini menghiasi pintu masuk.

Berbagai CD dan kaset tersusun rapi memenuhi setiap rak berdasarkan kategori dan genre musik. Aquarius Musikindo merupakan satu-satunya produser musik Indonesia yang membuka toko untuk menjual berbagai CD dan kaset original.

Toko musik Aquarius berdiri di beberapa titik di kota besar, seperti Pondok Indah Jakarta, Dago Bandung dan Mahakam. Namun kini, satu per satu toko musik milik Aquarius ditutup.

Setelah cabang Dago tutup pada Desember 2009 dan diikuti dengan tutupnya cabang terbesar di Pondok Indah pada 25 Agustus 2010 lalu, kini giliran Aquarius Mahakam. Berdasarkan pantauan VIVAlife pada Sabtu, 7 Desember 2013, beberapa rak sudah mulai kosong. Terutama rak di bagian kaset.

Ruangan yang diisi dengan 8 rak besar tersebut, hanya sisa satu rak yang terisi kaset, itupun sudah kosong di beberapa bagian, sisanya diisi dengan berbagai macam CD.

Tak jauh berbeda dengan ruang kaset yang hampir kosong, satu ruangan yang masih menjual CD dengan harga normal pun sudah kosong di beberapa bagian. Meski tak sebanyak ruangan pertama. Tak banyak pengunjung di ruangan itu, karena ketika masuk mereka akan langsung menuju ke ruangan yang bertuliskan ‘diskon 50%’.

Mereka memborong berbagai CD lagu-lagu favorit. Hampir seluruh pengunjung membawa keranjang kecil untuk meletakkan CD yang akan mereka beli.

Rata-rata lima hingga sepuluh CD mengisi keranjang kecil mereka. Ghazi, salah satu pengunjung langsung datang dari Bandung begitu mengetahui toko musik Aquarius di Mahakam akan tutup.

“Saya biasanya beli yang di Dago. Tapi, yang di sana udah tutup kan. Kemarin dengar yang di sini mau tutup juga dan lagi diskon, ya saya ke sini,” ujarnya saat ditemui VIVAlife.

Ghazi menyayangkan karena toko musik Aquarius mulai tutup satu per satu. Padahal, untuk mencari CD original saat ini terbilang cukup sulit. Ketika toko musik cabang Dago ditutup, ia mencari alternatif lain dengan membeli CD bekas dari pasar loak, meski kualitasnya tak sebaik jika membeli yang baru.

Hal tersebut juga diakui Wawan, pengunjung dari Jakarta yang memang senang mengoleksi CD. Menurutnya, meski sudah banyak musik digital, masih banyak masyarakat Jakarta yang lebih senang mengoleksi lagu dengan bentuk CD.

“Saya sering banget ke sini. Makanya sayang banget kalau sampai tutup juga,” ujarnya.

Saat dikonfirmasi mengenai rencana tutupnya toko musik tersebut, salah satu penjaga toko menolak untuk memberi tahu kepastian, kapan tepatnya toko tersebut akan tutup. Ia mengatakan bahwa hingga kini pihak manajeman baru mulai memberi diskon sejak awal Desember ini.
sumber: life.viva.co.id

Senin, November 25, 2013

Pahlawan Tanpa Tanda Jasa




Hymne Guru
Pencipta Lirik dan Lagu : Sartono


Terpujilah wahai engkau
ibu bapak guru
Namamu akan selalu hidup
dalam sanubariku

Semua baktimu
akan kuukir di dalam hatiku
Sebagai prasasti
terima kasihku tuk pengabdianmu

Engkau sebagai pelita dalam kegelapan
Engkau laksana embun penyejuk dalam kehausan
Engkau patriot pahlawan bangsa...
tanpa tanda jasa

Selamat Hari Guru, 25 November 2013

Rabu, April 21, 2010

Ibu Kita Kartini

W. R. Supratman

Ibu kita Kartini
Putri sejati
Putri Indonesia
Harum namanya

Ibu kita Kartini
Pendekar bangsa
Pendekar kaumnya
Untuk merdeka

Wahai ibu kita Kartini
Putri yang mulia
Sungguh besar cita-citanya
Bagi Indonesia

Ibu kita Kartini
Putri jauhari
Putri yang berjasa
Se Indonesia

Ibu kita Kartini
Putri yang suci
Putri yang merdeka
Cita-citanya

Wahai ibu kita Kartini
Putri yang mulia
Sungguh besar cita-citanya
Bagi Indonesia

Ibu kita Kartini
Pendekar bangsa
Pendeka kaum ibu
Se-Indonesia

Ibu kita Kartini
Penyuluh budi
Penyuluh bangsanya
Karena cintanya

Wahai ibu kita Kartini
Putri yang mulia
Sungguh besar cita-citanya
Bagi Indonesia

Rabu, Desember 02, 2009

Gamelan

Gamelan adalah ensembel musik yang biasanya menonjolkan metalofon, gambang, gendang, dan gong. Istilah gamelan merujuk pada instrumennya / alatnya, yang mana merupakan satu kesatuan utuh yang diwujudkan dan dibunyikan bersama. Kata Gamelan sendiri berasal dari bahasa Jawa gamel yang berarti memukul / menabuh, diikuti akhiran an yang menjadikannya kata benda. Orkes gamelan kebanyakan terdapat di pulau Jawa, Madura, Bali, dan Lombok di Indonesia dalam berbagai jenis ukuran dan bentuk ensembel. Di Bali dan Lombok saat ini, dan di Jawa lewat abad ke-18, istilah gong lebih dianggap sinonim dengan gamelan.

Kemunculan gamelan didahului dengan budaya Hindu-Budha yang mendominasi Indonesia pada awal masa pencatatan sejarah, yang juga mewakili seni asli indonesia. Instrumennya dikembangkan hingga bentuknya sampai seperti sekarang ini pada zaman Kerajaan Majapahit. Dalam perbedaannya dengan musik India, satu-satunya dampak ke-India-an dalam musik gamelan adalah bagaimana cara menyanikannya. Dalam mitologi Jawa, gamelan dicipatakan oleh Sang Hyang Guru pada Era Saka, dewa yang menguasai seluruh tanah Jawa, dengan istana di gunung Mahendra di Medangkamulan (sekarang Gunung Lawu). Sang Hyang Guru pertama-tama menciptakan gong untuk memanggil para dewa. Untuk pesan yang lebih spesifik kemudian menciptakan dua gong, lalu akhirnya terbentuk set gamelan.

Gambaran tentang alat musik ensembel pertama ditemukan di Candi Borobudur, Magelang Jawa Tengah, yang telah berdiri sejak abad ke-8. Alat musik semisal suling bambu, lonceng, kendhang dalam berbagai ukuran, kecapi, alat musik berdawai yang digesek dan dipetik, ditemukan dalam relief tersebut. Namun, sedikit ditemukan elemen alat musik logamnya. Bagaimanapun, relief tentang alat musik tersebut dikatakan sebagai asal mula gamelan.

Penalaan dan pembuatan orkes gamelan adalah suatu proses yang kompleks. Gamelan menggunakan empat cara penalaan, yaitu sléndro, pélog, "Degung" (khusus daerah Sunda, atau Jawa Barat), dan "madenda" (juga dikenal sebagai diatonis, sama seperti skala minor asli yang banyak dipakai di Eropa.
Sumber: Wikipedia (2/12/09) 

Calung

Calung adalah alat musik Sunda yang merupakan prototipe (purwarupa) dari angklung. Berbeda dengan angklung yang dimainkan dengan cara digoyangkan, cara menabuh calung adalah dengan mepukul batang (wilahan, bilah) dari ruas-ruas (tabung bambu) yang tersusun menurut titi laras (tangga nada) pentatonik (da-mi-na-ti-la). Jenis bambu untuk pembuatan calung kebanyakan dari awi wulung (bambu hitam), namun ada pula yang dibuat dari awi temen (bambu yang berwarna putih).

Pengertian calung selain sebagai alat musik juga melekat dengan sebutan seni pertunjukan. Ada dua bentuk calung Sunda yang dikenal, yakni calung rantay dan calung jinjing.

Sumber: Wikipedia (1/12/09)

Angklung

Angklung adalah alat musik tradisional Indonesia yang berasal dar Tanah Sunda, terbuat dari bambu, yang dibunyikan dengan cara digoyangkan (bunyi disebabkan oleh benturan badan pipa bambu) sehingga menghasilkan bunyi yang bergetar dalam susunan nada 2, 3, sampai 4 nada dalam setiap ukuran, baik besar maupun kecil. Laras (nada) alat musik angklung sebagai musik tradisi Sunda kebanyakan adalah salendro dan pelog.

Dalam rumpun kesenian yang menggunakan alat musik dari bambu dikenal jenis kesenian yang disebut angklung. Adapun jenis bambu yang biasa digunakan sebagai alat musik tersebut adalah awi wulung (bambu berwarna hitam) dan awi temen (bambu berwarna putih). Purwa rupa alat musik angklung; tiap nada (laras) dihasilkan dari bunyi tabung bambunya yang berbentuk wilahan (batangan) setiap ruas bambu dari ukuran kecil hingga besar.

Angklung merupakan alat musik yang berasal dari Jawa Barat. Angklung gubrag di Jasinga, Bogor, adalah salah satu yang masih hidup sejak lebih dari 400 tahun lampau. Kemunculannya berawal dari ritus padi. Angklung diciptakan dan dimainkan untuk memikat Dewi Sri turun ke Bumi agar tanaman padi rakyat tumbuh subur.

Dikenal oleh masyarakat sunda sejak masa kerajaan Sunda, di antaranya sebagai penggugah semangat dalam pertempuran. Fungsi angklung sebagai pemompa semangat rakyat masih terus terasa sampai pada masa penjajahan, itu sebabnya pemerintah Hindia Belanda sempat melarang masyarakat menggunakan angklung, pelarangan itu sempat membuat popularitas angklung menurun dan hanya di mainkan oleh anak- anak pada waktu itu.

Asal usul terciptanya musik bambu, seperti angklung berdasarkan pandangan hidup masyarakat Sunda yang agraris dengan sumber kehidupan dari padi (pare) sebagai makanan pokoknya. Hal ini melahirkan mitos kepercayaan terhadap Nyai Sri Pohaci sebagai lambang Dewi Padi pemberi kehidupan (hirup-hurip).

Perenungan masyarakat Sunda dahulu dalam mengolah pertanian (tatanen) terutama di sawah dan huma telah melahirkan penciptaan syair dan lagu sebagai penghormatan dan persembahan terhadap Nyai Sri Pohaci, serta upaya nyinglar (tolak bala) agar cocok tanam mereka tidak mengundang malapetaka, baik gangguan hama maupun bencana alam lainnya. Syair lagu buhun untuk menghormati Nyi Sri Pohaci tersebut misalnya:
Si Oyong-oyong
Sawahe si waru doyong
Sawahe ujuring eler
Sawahe ujuring etan
Solasi suling dami
Menyan putih pengundang dewa
Dewa-dewa widadari
Panurunan si patang puluh
Selanjutnya lagu-lagu persembahan terhadap Dewi Sri tersebut disertai dengan pengiring bunyi tabuh yang terbuat dari batang-batang bambu yang dikemas sederhana yang kemudian lahirlah struktur alat musik bambu yang kita kenal sekarang bernama angklung. Perkembangan selanjutnya dalam permainan Angklung tradisi disertai pula dengan unsur gerak dan ibing (tari) yang ritmis (ber-wirahma) dengan pola dan aturan=aturan tertentu sesuai dengan kebutuhan upacara penghormatan padi pada waktu mengarak padi ke lumbung (ngampih pare, nginebkeun), juga pada saat-saat mitembeyan, mengawali menanam padi yang di sebagian tempat di Jawa Barat disebut ngaseuk.

Demikian pula pada saat pesta panen dan seren taun dipersembahkan permainan angklung. Terutama pada penyajian Angklung yang berkaitan dengan upacara padi, kesenian ini menjadi sebuah pertunjukan yang sifatnya arak-arakan atau helaran, bahkan di sebagian tempat menjadi iring-iringan Rengkong dan Dongdang serta Jampana (usungan pangan) dan sebagainya.

Dalam perkembangannya, angklung berkembang dan menyebar ke seantero Jawa, lalu ke Kalimantan dan Sumatera. Pada 1908 tercatat sebuah misi kebudayaan dari Indonesia ke Thailand, antara lain ditandai penyerahan angklung, lalu permainan musik bambu ini pun sempat menyebar di sana.

Bahkan, sejak 1966, Udjo Ngalagena —tokoh angklung yang mengembangkan teknik permainan berdasarkan laras-laras pelog, salendro, dan madenda— mulai mengajarkan bagaimana bermain angklung kepada banyak orang dari berbagai komunitas.
Sumber: Wikipedia (1/12/09)

Rabu, November 25, 2009

Pahlawan Tanpa Tanda Jasa - (Hymne Guru)

Terpujilah wahai engkau ibu bapak guru
Namamu akan selalu hidup dalam sanubariku
Semua baktimu akan kuukir di dalam hatiku
Sebagai prasasti terima kasihku
Tuk pengabdianmu

Engkau sabagai pelita dalam kegelapan
Engkau laksana embun penyejuk dalam kehausan
Engkau patriot pahlawan pembangun insan cendikia



Selamat Hari Guru 25 Nopember

Minggu, Agustus 16, 2009

Wage Rudolf Soepratman

Wage Rudolf Supratman (lahir di Jatinegara, Jakarta, 9 Maret 1903 – meninggal di Surabaya, Jawa Timur, 17 Agustus 1938 pada umur 35 tahun) adalah pengarang lagu kebangsaan Indonesia, "Indonesia Raya" dan pahlawan nasional Indonesia.

Ayahnya bernama Senen, sersan di Batalyon VIII. Saudara Soepratman berjumlah enam, laki satu, lainnya perempuan. Salah satunya bernama Roekijem. Pada tahun 1914, Soepratman ikut Roekijem ke Makassar. Di sana ia disekolahkan dan dibiayai oleh suami Roekijem yang bernama Willem van Eldik.

Soepratman lalu belajar bahasa Belanda di sekolah malam selama tiga tahun, kemudian melanjutkannya ke Normaalschool di Makassar sampai selesai. Ketika berumur 20 tahun, lalu dijadikan guru di Sekolah Angka 2. Dua tahun selanjutnya ia mendapat ijazah Klein Ambtenaar.

Beberapa waktu lamanya ia bekerja pada sebuah perusahaan dagang. Dari Makassar, ia pindah ke Bandung dan bekerja sebagai wartawan. Pekerjaan itu tetap dilakukannya sewaktu sudah tinggal di Jakarta. Dalam pada itu ia mulai tertarik kepada pergerakan nasional dan banyak bergaul dengan tokoh-tokoh pergerakan. Rasa tidak senang terhadap penjajahan Belanda mulai tumbuh dan akhirnya dituangkan dalam buku Perawan Desa. Buku itu disita dan dilarang beredar oleh pemerintah Belanda.

Soepratman dipindahkan ke kota Sengkang. Di situ tidak lama lalu minta berhenti dan pulang ke Makassar lagi. Roekijem sendiri sangat gemar akan sandiwara dan musik. Banyak karangannya yang dipertunjukkan di mes militer. Selain itu Roekijem juga senang bermain biola, kegemarannya ini yang membuat Soepratman juga senang main musik dan membaca-baca buku musik.

W.R. Soepratman tidak beristri serta tidak pernah mengangkat anak.

Sewaktu tinggal di Makassar, Soepratman memperoleh pelajaran musik dari kakak iparnya yaitu Willem van Eldik, sehingga pandai bermain biola dan kemudian bisa menggubah lagu. Ketika tinggal di Jakarta, pada suatu kali ia membaca sebuah karangan dalam majalah Timbul. Penulis karangan itu menantang ahli-ahli musik Indonesia untuk menciptakan lagu kebangsaan.

Soepratman tertantang, lalu mulai menggubah lagu. Pada tahun 1924 lahirlah lagu Indonesia Raya.

Pada bulan Oktober 1928 di Jakarta dilangsungkan Kongres Pemuda II. Kongres itu melahirkan Sumpah Pemuda. Pada malam penutupan kongres, tanggal 28 Oktober 1928, Soepratman memperdengarkan lagu ciptaannya secara instrumental di depan peserta umum (secara intrumental dengan biola atas saran Soegondo berkaitan dengan kodisi dan situasi pada waktu itu, lihat Sugondo Djojopuspito). Pada saat itulah untuk pertama kalinya lagu Indonesia Raya dikumandangkan di depan umum. Semua yang hadir terpukau mendengarnya. Dengan cepat lagu itu terkenal di kalangan pergerakan nasional. Apabila partai-partai politik mengadakan kongres, maka lagu Indonesia Raya selalu dinyanyikan. Lagu itu merupakan perwujudan rasa persatuan dan kehendak untuk merdeka.

Sesudah Indonesia merdeka, lagu Indonesia Raya dijadikan lagu kebangsaan, lambang persatuan bangsa. Tetapi, pencipta lagu itu, Wage Roedolf Soepratman, tidak sempat menikmati hidup dalam suasana kemerdekaan.

Akibat menciptakan lagu Indonesia Raya, ia selalu diburu oleh polisi Hindia Belanda, sampai jatuh sakit di Surabaya. Karena lagu ciptaannya yang terakhir "Matahari Terbit" pada awal Agustus 1938, ia ditangkap ketika menyiarkan lagu tersebut bersama pandu-pandu di NIROM jalan Embong Malang - Surabaya dan ditahan di penjara Kalisosok-Surabaya. Ia meninggal pada tanggal 17 Agustus 1938 karena sakit.

Jumat, Oktober 31, 2008

Kisah Kasih Di Sekolah

Obbie Messakh

G
Resah dan gelisah
D/F#
Menunggu di sini
D7 G
Di sudut sekolah
C D
Tempat yang kau janjikan
D7 G
Ingin jumpa denghanku
C D
Walau mencuri waktu
D7 G C D
Berdusta pada guru

G
Malu aku malu
D/F#
Pada semut merah
D7 G
Yang berbaris di dinding
C D
Menatapku curiga
D7 G
Seakan penuh tanya
C D
Sedang apa disini
D7 G
Menanti pacar jawabku

Int: C D

Reff: G Bm C
Sungguh aneh tapi nyata
D7 G C D
Takkan terlupa
G Bm C
Kisah kasih di sekolah
D7 G
Dengan si dia
C G/B
Tiada masa paling indah
D7 G
Masa-masa di sekolah
C G/B
Tiada kisah paling indah
D7 G
Kisah kasih di sekolah

Coda: G Em
Masa-masa paling indah
G Em
Kisah kasih di sekolah


Blog Koleksi lirik lagu-lagu Indonesia Populer, kunjungi Lyric Crawler

Selasa, Oktober 21, 2008

Audisi Band untuk Reuni Akbar SMAN 109 Jakarta

Di buka band audisi (for warga alumni 109)... 
untuk tampil di acara reuni akbar CIX
Pendaftaran Rp 75.000,-/band (akustikan)..
Pemenang (juara 1,2,3) akan menjadi featuring band, n tampil bareng guest star
+ mendapatkan CD rekaman band selama manggung...

untuk informasi
hub. Juned angkatan 2004
021-71140605

Lihat Poster Reuni Akbar CIX

Senin, Januari 28, 2008

Cokelat - Bendera



Biar saja ku tak sehebat matahari
Tapi slalu kucoba tuk menghangatkanmu
Biar saja ku tak setegap batu karang
Tapi slalu kucoba tuk melindungimu

(*)
Biar saja ku tak seharum bunga mawar
Tapi slalu ku coba tuk mengharumkanmu
Biar saja ku tak seelok langit sore
Tapi slalu ku coba tuk mengindahkanmu

Bridge:
Ku pertahankan kau demi kehormatan bangsa
Ku pertahankan kau demi tumpah darah
s'mua pahlawan pahlawanku

Reff:
Merah putih teruslah kau berkibar
Di ujung tiang tertinggi
Di Indonesia ku ini
Merah putih teruslah kau berkibar
Di ujung tiang tertinggi
Di Indonesia ku ini
Merah putih teruslah kau berkibar
Kuakan slalu menjagamu

Back to: (*), Bridge, Reff

hoo....ooo....hooo...

Blog Koleksi lirik lagu-lagu Indonesia Populer, kunjungi Lyric Crawler

Rabu, Desember 19, 2007

2 kejadian "aneh" terjadi di Asian Idol

Bila Anda nonton Asian Idol Minggu, 16 Desember 2007 mungkin anda perhatikan ada sesuatu yang aneh. Yang pertama adalah penampilan Peterpan yang langsung diikuti oleh Abhijeet Sawant, lagu yang mereka bawakan Tak Bisakah dan Kya Mujhe Pyaar Hai adalah lagu yang pernah menjadi kontroversi dibawakan dalam satu panggung dan dinyanyikan "berdampingan".



Yang kedua adalah kemenangan Hady Mirza yang berasal dari Singapore, terlepas dari bagus atau tidaknya suara Hady Mirza, yang pasti diketahui adalah Singapore negara tempat dia berasal hanya memiliki 4.353.893 jiwa. Bila saja dibanding dengan India 1.065.070.607 jiwa, atau Indonesia 238.452.952 jiwa (Sumber Wikipedia Indonesia, 2007) maka kemenangan Hady Mirza adalah luar biasa, meskipun dengan cara 1 SMS 2 pilihan.

Lalu bagai mana komentar anda?

Kamis, Oktober 11, 2007

Rasa Sayange

Rasa sayange... rasa sayang sayange... Eeee lihat dari jauh rasa sayang sayange

Mana kancil akan dikejar, kedalam pasar cobalah cari... Masih kecil rajin belajar, sudah besar senanglah diri

Si Amat mengaji tamat, mengaji Qur'an di waktu fajar... Biar lambat asal selamat, tak kan lari gunung dikejar

Kalau ada sumur di ladang, boleh kita menumpang mandi... Kalau ada umurku panjang, boleh kita berjumpa lagi

Gimana Rasanye? Rasanye Gimane?

Mau Bilang Sayang? Sayang Gimana Rasanye?

Indonesia Ku Sayang! Sayang Cuma Indonesia!



Blog Koleksi lirik lagu-lagu Indonesia Populer, kunjungi Lyric Crawler

Kamis, Agustus 23, 2007

URBANFEST '07: All You Can Act!

URBANFEST '07: All You Can Act!
2007-08-14 19:08

Anak muda punya berbagai ragam kegiatan dan aktivitas. Komunitas yang terbentuk menampung berbagai aktivitas itu juga pastinya macem-macem. Agustus ini, sebuah acara ciamik yang menggabungkan seni, budaya, olahraga, bisnis, serta kuliner anak muda, bakal digelar!

URBANFEST ’07
Jumat – Minggu, 24 – 26 Agustus 2007
14.00 WIB - selesai
@ Pantai Carnival Ancol

Pantai Carnival Ancol bakal jadi lokasi mangkal, main, musik, dan makan-nya kawula muda. 24 – 26 Agustus 2007, berbagai acara, pameran, serta ratusan counter bazaar bakal mengubah Pantai Carnival Ancol jadi sebuah festival yang ciamik.

Band performance:
Jumat, 24 Agustus 2007
MC: Okki - Darto & Dagienkz - Panda
Imanisimo
Old Paper
Karon n Roll
Angkatan Udara
Bikinie’s
Club Eighties
The Hydrant
The Changcuters
Shaggy Dog
The Upstairs
Netral
DJ performance

Sabtu, 25 Agustus 2007
MC: Okki - Darto & Dagienkz - Panda
Jiung
Jambrong n The Woles
Sekarwati
TOR
That's Rockefeller
Superglad
Ballads of The Cliche
Mocca
DJ Groovism & Sexy Dancer

Minggu, 26 Agustus 2007
MC: Okki - Ben & Dagienkz - Desta
Guitar Orchestra
Pendulum
Olive Tree
Tika
Siksa Kubur
VOX
Float
Kill The DJ & DJ Vanda
The S.I.G.I.T
Souljah
Sore
White Shoes and The Couples Company
Pure Saturday
The Adams
The Brandals
DJ Groovism & Sexy Dancer

Urbanbooth Activities:
Indie Movie Mini Theater
Local Comics Exhibition
Urban Make Over
Urban Tattoo
Face Painting
Air soft Gun
Layang-layang
Helicopter Remote
BMX & Skateboard
Wii Nintendo Competition
Urban Photo Exhibition
Urban Dancing Performance
Euro Bungy
Sunset Lounge Area
Kids Area
Urban Games
Uji Nyali Stage
Urban Foodstall
Urban Distro
Urban Accessories

Sportainment:
UrbanFutsal
Urban 3 on 3
Urban Volley
Soccer Shooting Contest

Graffiti & Mural Competition:
Minggu, 26 Agustus 2007
Biaya pendaftaran: Rp 75.000,-/grup (maksimal 3 orang) -> alat bawa sendiri
Pendaftaran:
Sendal IKJ (OmSani), Bam (0812 896 4443)

Harajuku & Cosplay Competition:
Sabtu-Minggu, 25-26 Agustus 2007
Biaya pendaftaran: Rp 50.000,-/peserta
Informasi dan pendaftaran:
Loket Mataseni IKJ (Rasta/BJ)
Ratna (0815 163 7845)

Indie Offroad:
Jumat-Mingggu, 24-26 Agustus 2007
Kelas Lomba & Biaya Pendaftaran:
- Kelas Bebas/FFA : Rp 300.000,-/starter
- Kelas <2500>2500 cc: Rp 200.000,-/starter
- Kelas ALTO: Rp 100.000,-/starter

Modif Bike:
Jumat-Minggu, 24-26 Agustus 2007
Kelas Lomba:
- Kelas Fashion (Klasik/Minimalis/Sporty)
- Kelas Airbrush (Realis & Kartun/Grafis)
- Kelas Kinclong
- Kelas Extreme
Biaya pendaftaran: Rp 30.000,-/kelas

Informasi dan pendaftaran Indie Offroad dan Modifbike:
Promosi Otomotif Group (Dodo)
(021) 533 0150/70 ext 32133
HP: 0856 108 4071

Kawula muda yang udah gabung ke Prambors Circle juga bakal mendapatkan berbagai keuntungan di Urbanfest ‘07, mulai dari akses masuk Prambors Lounge di Urbanfest ‘07, makan dan minum McDonald’s Buy 1 Get 1 FREE di Prambors Lounge, diskon 20% untuk merchandise Prambors, dan ikutan games-games gokil berhadiah seru!


Kawula muda yang udah masuk Prambors Circle, cukup kirim SMS ke 9123 dengan format MAUDONG untuk dapetin reply message yang bakalan diganti dengan cap ”TERUSAN” Prambors Circle di pintu masuk Prambors Lounge. Buat kamu yang belum join Prambors Circle, cukup kirim SMS ke 9123 dengan format JOIN(spasi)PC.

Tiket bisa didapatkan di Prambors mulai 20 Agustus 2007 seharga Rp. 5.000,-. Tiket juga bisa didapatkan on the spot seharga Rp 10.000,- aja (udah termasuk biaya masuk Ancol. Tapi untuk kendaraan bayar lagi yaaa...). Untuk informasi lebih lanjut, klik aja di sini.

Sampai jumpa di Urbanfest ’07!

Sabtu, Juni 16, 2007

Kla Project - Yogyakarta



D Bm
Pulang ke kotamu

F#m G D Bm F#m G A
Ada setangkup haru dalam rindu

D Bm
Masih seperti

F#m G D Bm
Tiap sudut menyapaku bersahabat, penuh

F#m G
selaksa makna

A G D
Terhanyut aku akan nostalgia

Bm A
Saat kita sering Iuangkan waktu

F#m G A D Bm
Nikmati bersama suasana Jogja

F#m G D Bm F#m G
Di persirnpangan langkahku terhenti

D Bm
Ramai kaki lima

F#m D
Menjajakan sajian khas berselera

Bm F#m G
Orang duduk bersila

(*)

A G D
Musisi jalanan mulai beraksi

Bm A
Seiring laraku kehilanganmu

F#m
Merintih sendiri

G
Ditelan deru kotamu

Reff

D Bm F#m G
Walau kini kau t'lah tiada tak kembali

D Bm F#m
Namun kotamu hadirkan senyummu abadi

D Bm F#m
Ijinkanlah aku untuk s'lalu pulang lagi

D Bm F#m G
Bila hati mulai sepi tanpa terobati

Int: D Bm F#m G (4x)

Kembali ke: Reff




Blog Koleksi lirik lagu-lagu Indonesia Populer, kunjungi Lyric Crawler

Rabu, Juni 13, 2007

Marching Bands Personnel and Instrumentation

The size and composition of a marching band can vary greatly. Many bands have fewer than twenty members. Some have over 500. The Allen High School marching band, known as the Allen Escadrille, has nearly 600 members and is believed to be the largest in the world.A marching band is typically led by one or more drum majors, who are called field commanders in some ensembles.

They are also led by other student leaders that can include field lieutenants, and captains of other sections like brass, drumline, and woodwinds. The drum major often conducts the band, sometimes using a large baton or mace. In many school bands, the drum major is the student leader of the band, followed by students within the band that lead a section, squad, letter, row, etc. Bands may also be led by a more traditional conductor, especially during field shows, where a stationary conductor on a ladder or platform may be visible throughout the performance. Usually clapping or a whistle is used to issue commands.

American marching bands vary considerably in their exact instrumentation. Some bands omit some or all woodwinds, but it is not uncommon to see piccolos, flutes, clarinets, alto saxophones, and tenor saxophones. Bass clarinets, alto clarinets and baritone saxophones, bassoons and oboes are less common. Brass sections usually include trumpets or cornets, mellophones (instead of horns), B♭ tenor trombones, euphoniums or baritones, and sousaphones or tubas (often configured so that they can be carried over the shoulder with the bell facing forward). E♭ soprano cornets are sometimes used to supplement or replace the high woodwinds. Some especially large bands will use flugelhorns to cover the lower trumpet parts. Alto horns can also be used in place of the mellophone, although this is rare. Bass trombones are also sometimes used, especially in large bands.

Marching percussion (often referred to as the drumline or back battery) typically includes snare drums, tenor drums, bass drums, and cymbals. The glockenspiel, or "marching xylophone", is used by some ensembles. All of these instruments have been adapted for mobile, outdoor use.

For bands that include a front ensemble (also known as the "pit"), stationary instrumentation may include orchestral percussion such as timpani, wood blocks, marimbas, xylophones, vibraphones, chimes, as well as a multitude of auxiliary percussion equipment. Until the advent of the pit in the early 1980s, many of these instruments were actually carried on the field by marching percussionists. Some bands also include instruments such as synthesizers, electric guitars, and bass guitar. If double-reed or string instruments are used, they are usually placed here, but even this usage is very rare due to their relative fragility.

Instrumentation varies widely from band to band, so no generalization is completely correct. There are bands where members play string instruments, or bang on brake drums, empty propane tanks, and trashcans with drumsticks.

Large bands also require a number of support staff who can move equipment, repair instruments and uniforms, and manipulate props used in performances. In high school bands, these activities are usually performed by volunteers, typically parents of band members or the band members of the lower grades.

Marching bands history

Marching bands evolved out of military bands. As musicians became less and less important in directing the movement of troops on the battlefield, the bands moved into increasingly ceremonial roles. An intermediate stage which provided some of the instrumentation and music for marching bands was the modern brass band, which also evolved out of the military tradition.

Many military traditions survive in modern marching band. Bands that march in formation will often be ordered to "dress" their "ranks" and "cover down" their "files". They may be called to "attention", and given orders like "about face" and "forward march". Uniforms of many marching bands still resemble military uniforms.

Outside of police and military organizations, modern marching band is most commonly associated with American football, and specifically the halftime show. Many U.S. universities had bands before the twentieth century. The first modern halftime show by a marching band at a football game was by the University of Illinois Marching Illini in 1907 at a game against the University of Chicago.

Another innovation that appeared at roughly the same time as the field show and marching in formations was the fight song. University fight songs are often closely associated with the university’s band. Many of the more recognizable and popular fight songs are widely utilized by high schools across the country. Three university fight songs commonly used by high schools are The University of Michigan’s “The Victors”, Notre Dame’s “Victory March”, and the United States Naval Academy’s “Anchors Aweigh”

Other changes in marching band have been:

* adoption of the tradition by secondary schools (high schools, junior high schools, and middle schools)

* the addition of a dance team, and/or baton twirlers/majorettes

* the addition of color guard members

Bands of America Award Ceremony at the Superregional Competition in St. Louis, MO, October, 2005 Bands of America Award Ceremony at the Superregional Competition in St. Louis, MO, October, 2005

Since the inception of Drum Corps International in the 1970s, many marching bands that perform field shows have adopted changes to the activity that parallel developments with modern drum and bugle corps. These bands are said to be corps-style bands. Changes adopted from drum corps include:

* marching style: instead of a traditional high step, drum corps tend to march with a fluid roll step to keep musicians' torsos completely still (see below)

* the adaptation of the flag, rifle, and sabre units into "auxiliaries", who march with the band and provide visual flair by spinning and tossing flags or mock weapons and using dance in the performance

* moving marching timpani and keyboard percussion into a stationary sideline percussion section (pit), which has since incorporated many different types of percussion instruments

* the addition of vocalists and/or electric instruments (marching bands have as a general rule adopted these aspects before drum corps, for instance the Drum Corps International circuit has only allowed electronic amplification since 2004 and has yet to permit electronic instruments without penalties)

* marching band competitions are judged using criteria similar to the criteria used in drum corps competitions, with emphasis on individual aspects of the band (captions for music performance, visual performance, percussion, guard (auxiliary), and general effect are standard).

Marching Band

Marching Band A marching band is a group of instrumental musicians who generally perform outdoors, and who incorporate movement – usually some type of marching – with their musical performance. Instrumentation typically includes brass, woodwinds, and percussion instruments and the music usually incorporates a strong rhythmic component suitable for marching. In addition to traditional parade performances, many bands also perform field shows at special events (such as football games) or at marching band competitions.

Marching bands are generally categorized by function and by the style of field show (if any) they perform. Increasingly, Marching Bands are performing indoor concerts, in addition to any "Pep Band" duties, that implement many of the songs, traditions, and flair from outside performances.

Gita Teladan Drum & Brass Corps 25th Anniversary

GITA TELADAN ALUMNI ASSOCIATION Presents MARCHING BAND IN CONCERTS

Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki
Sabtu, 30 Juni 2007
Pukul 19:00 pm

Menghadirkan:
Didit Maruto, Susanto "Sonyol" Hadi, Elfa's Brass Band,
Jakarta Marching Band's Community, Brass n Percussion Ensemble,
Gita Teladan Drum & Brass Corps, Korp Puteri Tarakanita,
Puteri Santa Ursula Marching Brass, Madah Bahana UI n Garuda Flight Drum & Bugle Corps.

Contact Person : Desy 021-92690883

Selasa, Mei 08, 2007

16 Lirik Lagu Wajib Nasional

Bagi temen-temen yang masih berstatus pelajar, pastilah lagu-lagu Wajib Nasional masih sangat familiar di telinga. Setidaknya saat upacara bedera Lagu Indonesia Raya tidak pernah terlewat dinyanyikan oleh paduan suara dari kelas yang mendapat giliran untuk menjadi petugas upacara. Namun para alumni yang telah lulus lebih dari 2 tahun, apakah masih ingat dengan lirik dan nada dari lagu-lagu Wajib Nasional tersebut?

Sekedar menyegarkan dan meningkatkan semangat Nasional, berikut lirik-lirik 16 lagu Wajib Nasional Indonesia, sebagian disertakan dengan instrumen MIDI yang di embed dari Songs Indonesia (http://www.geocities.com/SoHo/1823/) :
  1. Bagimu Negeri (Ciptaan : Kusbini)
  2. Bendera Merah Putih (Ciptaan : Ibu Sud)
  3. Berkibarlah benderaku (Ciptaan : Ibu Sud)
  4. Dari Sabang sampai Merauke (Ciptaan : R. Surarjo)
  5. Garuda Pancasila (Ciptaan : Sudharnoto)
  6. Hari Merdeka (Ciptaan : H. Mutahar)
  7. Halo-Halo Bandung (Ciptaan : Ismail Marzuki)
  8. Ibu Kartini (Ciptaan : WR Supratman)
  9. Indonesia Pusaka (Ciptaan : Ismail Marzuki)
  10. Indonesia Raya (Ciptaan : WR Supratman)
  11. Indonesia Tetap Merdeka (Ciptaan : C. Simanjuntak)
  12. Indonesia Tumpah Darahku (Ciptaan : Ibu Sud)
  13. Maju Tak Gentar (Ciptaan : C. Simanjuntak)
  14. Rayuan Pulau Kelapa (Ciptaan : Ismail Marzuki)
  15. Satu Nusa Satu Bangsa (Ciptaan : L. Manik)
  16. Syukur (Ciptaan : H. Mutahar)
Selain 16 Lagu-lagu wajib di atas, anda yang ingin mengetahui lirik lagu-lagu dengan tema nasionalise lainnya dapat mengakses blog Lyric Crawler pada halaman yang berjudul Daftar 16 Lagu Wajib Nasional + 40 Lagu Tema Nasionalisme

linkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...