Minggu, Juni 22, 2014

Siswa Sekolah Diwajibkan Memakai Badge Merah Putih di Seragamnya

ilustrasi (www.kaskus.co.id)
Seragam sekolah secara nasional baik tingkat SD, SMP, SMA, mulai tahun ajaran baru 2014/2015 diwajibkan ditambah bendera merah putih ukuran 5 x 3 cm di atas saku kiri baju seragamnya.

Jika siswa tidak mengenakan (tambahan) bendera merah putih tersebut, maka sekolah wajib untuk memberikan sanksi bagi para siswa yang tidak mengenakannya.

"Ya harus ada sanksi. Ini kan wajib. Sanksinya sama dia tidak memakai seragam," ujar Mendikbud M Nuh kepada wartawan usai acara Rapat terbuka senat dan Dies natalis 1 Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) di Hotel JW Marriott Surabaya, Sabtu (14/6/2014).

Permendikbud Nomor 45 Tahun 2014 tentang Pakaian seragam sekolah. Setiap siswa SD yang mengenakan seragam putih merah, seragam SMP putih biru dan seragam SMA/SMK diwajibkan menambah badge bendera merah putih ukuran 5 x 3 cm yang diletakkan di atas saku kiri seragam bajunya.

Diterbitkannya Permendikbud Nomor 45 Tahun 2014 tersebut, karena alasannya diantaranya seperti, masih adanya silang pendapat tentang seragam, terutama sudah menyangkut dengan keyakinan.

"Oleh karena itu, kami ini menegaskan kembali dan kami tuangkan di dalam Permendikbud Nomor 45 Tahun 2014," tuturnya sambil menambahkan fungsi dari penyeragaman sekolah yang ada penambahan badge bendera merah putih.

"Fungsi pertama, seragam itu apa. Seragam ya seragam, yaitu untuk menyeragamkan. Artinya, jangan sampai di sekolah itu karena tidak ada seragam, sehingga nampak simbol yang dipakai orang kaya sama yang tidak. Jadi fungsi yang pertama ini untuk mengeliminasi status sosial di sekolah," paparnya.

Fungsi kedua badge bendera merah putih tersebut sebagai bagian dari membangun karakter bangsa. "Oleh karena itu, yang baru ini (peraturan seragam sekolah) ini kuta tambah karakter Indonesia kita. Apa itu? yaitu merah putih," terangnya.

Seragam sekolah yang ada penambahan 'badge' merah putih di atas saku kiri baju diberlakukan mulai tahun ajaran baru 2014/2015. Merah putih tersebut bisa ditambahkan ke seragam yang sebelumnya tidak ada bendera merah putihnya.

"Nasionalisme kita tingkatkan lagi. Dan peraturan ini tidak ada kaitanyya dengan periode 5 tahunan (pemilu presiden), tapi ini murni kita tanamkan ke adik-adik kita mulai dari kecil SD, SMP, SMA, SMK," tandasnya.
[detikcom]

Rabu, Februari 26, 2014

Siaran Pers: Pameran Rokok Inter-tabac Asia di Bali Dibatalkan!


Jakarta, 25 Februari 2014 – Inter-Tabac Asia yang merupakan sebuah ajang promosi produk dan teknologi rokok internasional rencananya akan diadakan di Bali Nusa Dua Convention Centre (BNDCC) pada tanggal 27 – 28 Pebruari 2014 mendatang. Berdasarkan informasi dari pihak BNDCC-BTDC pihak penyelenggara Inter-Tabac sudah mengajukan ijin penyelenggaraan kegiatan dengan melampirkan surat ijin keamanan dari Kepolisian RI. Pelaksanaan kegiatan ini mendapat penentangan dari berbagai elemen masyarakat, khususnya organisasi pemerhati kesehatan.

3 Hari yang lalu, perusahaan penyelenggara pameran Westfalenhallen memberikan informasi melalui website resminya bahwa mereka membatalkan pameran Inter-tabac Asia 2014 di Indonesia. http://www.westfalenhallen.de/messen/intertabac-asia/en/

Berbagai penolakan baik di dalam negeri maupun dari luar negeri disuarakan oleh berbagai organisasi, lembaga, dan komunitas yang konsen terhadap pengendalian tembakau. Yosef Rabindanata Nugraha yang juga inisiator dari gerakan Indonesia Bebas Rokok memulai dengan petisi online melalui situs change.org bersama Max Vollmer yang juga merupakan ketua dari organisasi Deutscher Jugendschutzverband di Dortmund pada tanggal 1 Desember 2013. Petisi tersebut berhasil ditandatangani oleh lebih dari 12.000 orang, diantarnya adalah 8.000 masyarakat Indonesia, 3.000 masyarakat Jerman, dan selebihnya masyarakat dari negara lain.

Penggalangan dukungan melalui online dan audiensi para aktivis pengendalian tembakau dengan Gubernur Bali, Bupati Badung, Pengelola Bali Nusa Dua Convention Center dan berbagai desakan kepada pemerintah berhasil melahirkan penolakan dari Gubernur Bali, Bupati Badung, dan pengelola dari tempat diselenggarakannya Inter-tabac Asia yaitu Bali Nusa Dua Convention Center.

Yosef Rabindanata Nugraha, Initiator Indonesia Bebas Rokok mengatakan, “Tanpa adanya dukungan dari para aktivis pengendalian tembakau yang ada di Indonesia dan Jerman, kita tidak mungkin berhasil. Ini adalah kemenangan kita. Kepada Westfalenhallen: Kami tidak mau pameran Inter-tabac Asia! Silahkan pergi dari Indonesia dan negara-negara di Asia!“

Dengan dibatalkannya Inter-tabac Asia, merupakan sebuah kemajuan besar bagi Bali dan Indonesia. Namun, peluang dipindahnya pameran tersebut ke kota lain di Indonesia masih cukup besar. Seperti Pemerintah Provinsi Bali, dibutuhkan komitmen dari berbagai daerah di Indonesia untuk menolak pameran rokok diadakan di Indonesia. Menerima atau mengadakan pameran rokok, sama saja menjadikan Indonesia sebagai tempat sampah bagi industri rokok dimana hampir diseluruh dunia industri rokok sudah ditolak.

More information:

www.dortmundkills.de
http://www.change.org/StopDortmund
www.facebook.com/dortmundkills

[Indonesia Bebas Rokok]

Rabu, Januari 29, 2014

"Aku Ingin Kakak Juga Bahagia . . . "

Kulihat kembali tumpukan surat kabar di rak meja ruang tamu. “Kecelakaan Garuda Tewaskan Ratusan orang,” itulah topik yang selalu diberitakan dan menjadi hampir di semua surat kabar nasional yang terbit sekitar sebulan lalu. Tragedy itu jugalah yang menewaskan kedua orang tuaku dan membuat adikku satu-satunya terbaring koma sampai detik ini. Ada rasa sesal, sedih, kecewa, marah, dan benci yang teramat sangat. Kalau saja Tita adikku, tidak selalu merengek ingin liburannya ke Paris, pasti kecelakaan itu tidak akan membuatku, yang masih menjadi mahasiswa tingkat III, menjadi yatim piatu secepat ini.

Mungkin predikat anak sial yang kudeklarasikan untuk Tita memang tidak salah. Selama 15 tahun kurasakanbetapa bahagianya menjadi anak tunggal yang selalu dimanja. Orang tuaku yang merupakan pengusaha sukses selalu memberikan apapun yang kuminta. Tapi kehadiran seorang adik di tengah-tengah kami menjadikan hidupku berubah 180 derajat. Mama lebih memperhatikan Tita, dan menyuruhku selalu mengalah. Tidak hanya itu, kedua orang tuaku pun selalu membelanya meskipun jelas-jelas Tita-lah yang bersalah. Ibarat putri raja yang seketika menjadi anak tiri. Menyebalkan !!! Kebencian itu sudah kupupuk semenjak mama dinyatakan positif hamil. Dan setiap hari hanya stress yang aku rasakan bila sudah berada di dalam rumah, karena tidak ada sedetik pun yang terlewat bagi Tita untuk tidak mengganguku.

linkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...