Selasa, Agustus 07, 2007

Goldman Sach Prediksi tentang Indonesia

Goldman Sach adalah salah satu bank investasi terbesar di dunia. Karena itu, apa yang dikatakan lembaga itu tentu disertai dasar yang jelas dan selalu mendapat perhatian dari khalayak.

Dalam tulisan terbaru "N-11: More Than an Acronym", (Global Economics Paper No 153, Maret 28, 2007), Goldman Sach membuat suatu prediksi perekonomian global pada tahun 2050. Dalam makalah itu Indonesia diprediksi akan menjadi kekuatan nomor tujuh di dunia setelah China, AS, India, Brasil, Meksiko, dan Rusia.

Prediksi mirip makalah The World in 2050 yang disiapkan Pricewaterhousecoopers, yang menempatkan Indonesia pada kekuatan nomor enam setelah AS, China, India, Jepang, dan Brasil. Dari kedua tulisan itu menarik disimak bahwa urutan enam besar perekonomian dunia bisa berbeda, tetapi urutan Indonesia keenam atau ketujuh relatif tidak banyak berbeda.

Pada tahun 2025, Goldman Sach memprediksi perekonomian Indonesia akan sebesar di antara Kanada dan Turki. Dalam hal ini, PDB Indonesia akan menempati urutan ke-14, Kanada berada di atasnya urutan ke-13. Dua puluh lima tahun kemudian, Indonesia diprediksi menjadi kekuatan ketujuh perekonomian dunia, melampaui Jepang, Inggris, Jerman, Nigeria, Perancis, Korea, dan Turki. Apakah prediksi itu memiliki alasan kuat?

Yang jelas, sudah ada dua lembaga amat terhormat di dunia yang membuat prediksi seperti itu. Karena itu, merupakan suatu hal yang menarik untuk melihat data yang digunakan Goldman Sach dan prediksi jangka pendek mereka.

Goldman Sach menggunakan tahun 2006 sebagai tahun dasar. Seberapa akurat data yang digunakan dibandingkan dengan data resmi yang dipublikasikan? Sebagai catatan, Goldman Sach juga menggunakan data ofisial, meski untuk tahun 2006 masih menggunakan angka prediksi.

Ternyata data tahun 2006 yang kita miliki menunjukkan perkembangan yang lebih cepat dibandingkan dengan data Goldman Sach. Total PDB, misalnya, mencapai angka sekitar 366 miliar dollar AS dibandingkan dengan prediksi Goldman Sach sebesar 350 miliar dollar AS. Dengan angka lebih tinggi itu, pendapatan per kapita penduduk Indonesia mencapai 1.663 dollar AS tahun 2006, sedangkan menurut data Goldman Sach sebesar 1.508 dollar AS. Selain angka PDB, perbedaan angka pendapatan per kapita juga disebabkan jumlah penduduk yang menurut Goldman Sach sebesar 232 juta penduduk, lebih besar daripada angka sebenarnya.

Bagi yang skeptis, prediksi ini bisa dianggap membuang-buang waktu. Meskipun demikian, mengingat nama besar kedua institusi itu, rasanya kita perlu melihat secara lebih jernih apa yang mereka lakukan dengan apa yang sudah terjadi beberapa tahun terakhir ini.

Tampaknya, apa yang dimunculkan kedua institusi itu kian menemukan bentuknya dalam "The World in 2007" (Economist edisi Desember 2006). Dalam edisi itu disebutkan ada 66 negara yang memiliki perekonomian terbesar di dunia, dengan data cukup rinci. Dalam daftar itu, Indonesia ada pada urutan ke-21 dengan menggunakan nilai tukar pasar (market exchange rate, bukan dengan PPP rate). Dibandingkan dengan data 2004, Indonesia masih di urutan ke-25-26 bersama Arab Saudi.

Dalam artikel itu disebutkan, PDB Arab Saudi tetap di urutan ke-26 meski terjadi kenaikan amat tinggi harga minyak bumi. Indonesia dalam tiga tahun telah dan akan melampaui Austria, Norwegia, Turki, dan Polandia. Tahun ini saya prediksi PDB Indonesia akan mencapai sekitar 410 miliar dollar AS. Ini bisa membawa Indonesia pada urutan ke-20, melampaui Taiwan.

Pada tahun 2010, seperti dikemukakan sebelumnya, Indonesia akan melampaui Swiss, Swedia, dan Belgia, dengan total PDB sekitar 550 miliar dollar AS. Jika ini terjadi, posisi ke-14 sebagaimana prediksi Goldman Sach tahun 2025, bukan tidak mungkin akan terlampaui bahkan sebelum akhir tahun 2020.

Semoga mimpi ini akan membawa kemakmuran lebih besar bagi penduduk Indonesia tanpa terkecuali.

Sumber/Referensi : Cyrillus Harinowo (www.kompas.com ; 1 Agustus 2007)

Senin, Agustus 06, 2007

Roy Suryo dan Tim Air Putih Hanya Mencari Sensasi

Dalam satu , dua hari belakangan ini, tayangan televisi swasta lokal Jakarta dan nasional memberitakan tentang lagu Indonesia "tempo Dulu". Lagu kebangsaan tersebut yang disiarkan oleh saluran tv swasta, berhubungan tentang bait yang lebih banyak dari versi yang diajarkan di sekolah hingga kini, dan katanya lebih bersemangat. Ini menjelaskan ada semacam ketidaksesuaian, yang lebih parah lagi Roy Suryo dan Tim Air Putih, diklaim oleh saluran tv tersebut sebagai "penemu" lagu Indonesia Raya yang "asli" dalam bentuk video terbitan tahun 1944.

Mereka menemukannya dengan tidak sengaja, ketika ingin melihat lewat internet tentang foto-foto Indonesia jaman dulu. Eh, tanpa disengaja ditemukanlah lagu kebanggaan bangsa Indonesia itu (seperti romantika Columbus, bukan???). Saya berfikir, apakah seceroboh ini, bangsa Indonesia dalam mengabadikan atau menghargai Pahlawan Nasional Wage Rudolph Supratman?.

Hari itu juga, saya mulai membuka buku terbitan tahun 1949 yang berjudul : Lukisan Sejarah Indonesia karya Kementrian Penerangan Republik Indonesia yang ketika itu Presidennya adalah Dr.Ir.Soekarno. Tepat pada lembaran-lembaran awal, keyakinanku terjawab. Syair yang terdengar di tv, ternyata sudah tertata rapi, lebih dari 60 tahun yang lalu bangsa ini telah mengabadikannya. Bahkan sejak april 2007, pada situs http://www.youtube.com/ juga terpampang lagu Indonesia raya seperti yang ditampilkan oleh Ahli Telematika dan tim-nya itu, sehingga "diakui" merekalah penemunya. Bahkan, Des Alwi sang pelaku sejarah telah mempunyai rekaman asli lagu yang diberitakan oleh pers tv sebagai "temuan" Roy Suryo.

Sudah seharusnya ahli telematika belajar dari orang-orang yang ahli bidang sejarah, dan insan pers tv harus croscheck terhadap informasi dari orang yang belum ahli dibidangnya, dalam hal ini adalah ahli sejarah. Selanjutnya timbul pertanyaan, kenapa ada perbedaan syair?, dijelaskan oleh keturunan W.R.Supratman, bahwa pengurangan syair disebabkan oleh tekanan Belanda dan Jepang karena selalu berpekik-kan : merdeka", dan bersifat provokatif.

Dan, saya kira pengurangan itu dilakukan agar nyayian tersebut lebih praktis, artinya agar anak didik dapat lebih mudah menghafal, toh intisarinya masih tetap semangat kebangsaan. Dengan demikian, saya berpendapat bahwa apa yang dilakukan dan diberitakan beberapa hari ini, Roy Suryo dan Tim-nya tidak lebih hanya mencari sensasi. Itupun, kalau tidak mau disebut sebagai pihak yang tidak pernah mengikuti perkembangan Indonesia, alias tidak pernah membaca buku sejarah. Hal ini diperparah lagi oleh insan pers tv, yang dengan bombastis memberitakan "penemuan" pihak yang tidak tahu menahu itu.

Kalau penemuan benua Amerika oleh Cristophorus Columbus yang penuh romantika itu, baru dipatahkan kebenarannya pada abad 20, dengan diyakininya secara ilmiah bahwa bangsa Viking dan Cina-lah yang lebih awal datang ke Amerika, maka "penemuan yang konyol" oleh Roy Suryo dan Tim-nya itu yang diberitakan oleh pers tv, dapat ditanggulangi dengan cara membuka internet dan baca buku sejarah, atau menyaksikan secara langsung Lagu Indonesia Raya terbitan tahun 1944 di rumah Des Alwi, tanpa membutuhkan hitungan tahun. Kita harus banyak membaca buku, bukan???...lebih baik jadi "kutu buku" daripada kelak "mati kutu"...Mulailah membaca hari ini!!! Hiduuplah Indonesia Raya......


Sucipto Ardi
Pecinta Sejarah Indonesia

KOMUNITAS PEKERJA BERSEPEDA INDONESIA

ImageDari sekelompok penggemar sepeda MTB (mountain bike) di Jakarta yang punya semangat, gagasan dan harapan terwujudnya udara bersih di perkotaan khususnya Jakarta, maka lahirlah KOMUNITAS PEKERJA BERSEPEDA (bike-to-work Community). Komunitas ini berkeinginan untuk mengkampanyekan penggunaan sepeda sebagai alternatif moda transportasi, utamanya ke tempat kerja (bike-to-work).

Karenanya, sejak 6 Agustus 2004, Komunitas B2W telah melakukan kampanye rutin setiap bulan hingga saat ini dengan melakukan penyebaran media informasi berupa pamphlet (news flyer), serta menjalin kerjasama dengan berbagai media massa dan cetak. Setahun kemudian, tepatnya pada tanggal 27 Agustus 2005, di Balai Kota DKI, disaksikan oleh Bapak Fauzi Bowo selaku Wakil Gubernur DKI, terselenggaralah DEKLARASI b2w-Indonesia.

Semoga kelak, bersepeda dengan AMAN dan NYAMAN bukan lagi merupakan suatu impian belaka, sehingga semakin banyak masyarakat yang mau menggunakan sepeda sebagai sarana transportasinya.Ingat, anak-cucu kita, keluarga kita, tetangga kita, lingkungan kita, kota kita juga butuh udara bersih dan segar.

linkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...